wvsOdYmDaT9SQhoksZrPLG0gYqduIOCNl12L9d9t
Bookmark

Epistel Minggu 7 Juni 2026 - 1 Korintus 10 ayat 18-26

Epistel-Minggu-7-Juni-2026-1-Korintus-10-ayat-18-26-Dunia-dan-Segala-Isinya-adalah-Milik-Tuhan

Epistel Minggu 7 Juni 2026 Minggu Pertama Setelah Trinitatis tertulis dalam Kitab 1 Korintus 10 ayat 18 - 26. Mari kita perdalam pemahaman kita terhadap Perikop Epistel ini. Sesuai dengan Almanak Gereja kita yang menjadi tema Epistel adalah "Dunia dan Segala Isinya adalah Milik Tuhan." Mari kita ikuti pembahasannya. 

Pendahuluan 

Hal yang berharga bagi kehidupan bisa juga mengandung bahaya yang besar. Pisau kecil meski cukup untuk melukai, tetapi tidak sebahaya belati atau kapak. Demikian halnya dengan pergaulan. Pergaulan adalah salah satu karunia mulia untuk hidup manusia. Pergaulan membuat kita mengenal diri, bertumbuh dalam relasi, mengembangkan berbagai fungsi sosial, dan aspek kemanusiaan lainnya. Namun selain merusak diri sendiri, pergaulan yang buruk dapat menyebarkan infeksi kejahatan lebih jauh lagi dalam mayarakat. Bahkan seringkali berhala-berhala tersebut dikemas dalam simbol-simbol kekuasaan, kesenangan, kemewahan yang kita junjung tinggi. Sekarang tinggal bagaimana kita menyikapi hal-hal tersebut. 


Advertisement - Scroll untuk terus membaca postingan.

Pembahasan 

Paulus meneguhkan dasar pernyataan di atas dengan ibadah penyembahan dan adat kebiasaan orang yahudi: ayat 18 “Perhatikanlah bangsa Israel menurut daging: bukanlah mereka yang makan apa yang dipersembahkan mendapat bagian dalam pelayanan mezbah, yaitu korban yang dipersembahkan di atasnya? Orang-orang yang diperbolehkan makan dari  korban persembahan dianggap sebagai mengambil bagian dari korban persembahan itu sendiri, sebagai sesuatu yang diperuntukkan bagi mereka, dan dikuduskan dengannya. Dengan demikian mereka pasti menyembah Allah dan bersekutu dalam perjanjian dengan Dia, Allah Israel, kepada siapa korban itu dipersembahkan. Inilah lambang atau tanda bahwa kita bersekutu dengan-Nya. Paulus menerapkan pernyataan di atas ini untuk menentang pesta pora bersama para penyembah berhala dalam menikmati korban persembahan mereka, dan untuk membuktikan bahwa mereka yang melakukannya adalah penyembah berhala juga. Dengan mengikuti asas yang menurut mereka diperbolehkan, yaitu bahwa berhala tidak berarti apa-apa. Banyak yang tidak mempunyai arti apa pun, tidak ada satu pun berhala yang bersifat ilahi. Apa yang dipersembahkan kepada berhala bukanlah apa-apa dan sama sekali tidak berubah dari keadaannya sebelumnya, setiap bagian yang ada di dalamnya hanyalah makanan semata. 

Tampaknya jemaat korintus itu berkeras bahwa karena berhala bukanlah apa-apa, maka apa pun yang dipersembahkan juga bukan apa-apa melainkan sekadar makanan biasa, dan oleh sebab itu boleh mereka makan tanpa segan-segan. Rasul Paulus menyetujui bahwa makanan itu memang tidak berubah sifatnya dan layak dimakan sebagai makanan biasa apabila dihidangkan kepada siapa pun yang tidak tahu bahwa makanan itu sebelumnya telah dipersembahkan kepada berhala. Di ay 20 “Persembahan mereka adalah persembahan kepada roh-roh jahat”, sebab apa yang dipersembahkan oleh orang-orang bukan yahudi itu mereka persembahkan kepada roh-roh jahat. Memakan persembahan itu bersama mereka adalah ikut mengambil bagian di dalamnya, dan oleh karena itu sama dengan menyembah dewa untu siapa korban itu dipersembahkan. 

Ini berarti bersekutu dengan dewa itu, sama seperti orang yang makan perjamuan Tuhan juga mengambil bagian dalam persembahan korban kristiani, atau seperti orang-orang yang memakan korban persembahan orang Yahudi mengambil bagian dalam korban yang dipersembahkan di atas mezbah mereka. Namun, orang-orang kafir mempersembahkan korban kepada roh-roh jahat: “oleh sebab itu, janganlah makan korban persembahan mereka. Melakukan hal ini merupakan tanda bahwa kamu bersekutu dengan roh-roh jahat kepada siapa korban itu dipersembahkan. Aku tidak mau kamu mengadakan persekutuan dengan roh-roh jahat”. Di ayat 21 dijelaskan mengambil bagian dalam perjamuan Kristen ini adalah menjalin persekutuan dengan Kristus, sedangkan mengambil bagian dalam perjamuan yang dibuat untuk menghormati berhala orang kafir dan dibuat dari makanan yang dipersembahkan kepada mereka, sama dengan menjalin persekutuan dengan roh-roh jahat. Jadi ada pertentangan yang terjadi di sini, ada ketidaksesuaian. Persekutuan dengan Kristus dan persekutuan dengan roh-roh jahat tidak pernah bisa berjalan bersama-sama. Orang yang menjalin persekutuan dengan roh-roh jahat dengan sendirinya harus meninggalkan persekutuan dengan Kristus. Alangkah berlawanannya perilaku orang yang mengambil bagian dalam perjamuan Tuhan, tetapi juga mengambil bagian dalam perjamuan roh-roh jahat! Allah dan mamon tidak pernah dapat dilayani bersama-sama, begitu juga persekutuan dengan Kristus dan dengan Iblis tidak dapat dilakukan serempak. Orang-orang yang bersekutu dengan roh-roh jahat sebenarnya telah menolak Kristus. 

Ay 22 dijelaskan besar kemungkinan bahwa banyak orang Korintus yang memandang enteng kehadiran mereka di pesta-pesta perjamuan orang kafir ini dan menyangka bahwa hal itu tidak menjadi soal. Namun, rasul Paulus memperingatkan mereka untuk berhati-hati. Alasan mengapa perintah kedua (dari sepuluh perintah- pen) ditekankan adalah, Aku adalah Allah yang cemburu. Dalam hal penyembahan, Allah tidak tahan dengan adanya pesaing. Tidak pula Ia mau menyerahkan kemuliaan-Nya, atau membiarkannya diberikan kepada yang lain. Orang-orang yang bersekutu dengan ilah-ilah lain akan membangkitkan kecemburuan-Nya (Ul 32: 16). Di ay 23 dijelaskan rasul Paulus menunjukkan dalam keadaan apa saja orang Kristen diperbolehkan makan korban yang telah dipersembahkan kepada berhala. Mereka tidak boleh memakannya karena menghormati berhalanya, atau masuk ke kuilnya dan mengadakan perjamuan di sana karena tahu bahwa ini merupakan upacara persembahan korban kepada berhala. 

Rasul Paulus memperingatkan agar kita tidak menyalahgunakan kebebasan dalam hal-hal yang diperbolehkan. Hal yang diperbolehkan belum tentu berguna dan membangun. Orang Kristen jangan sekadar mempertimbangkan apa yang diperbolehkan, tetapi juga yang berguna dan membawa perbaikan.  Di ay 24 dijelaskan dia harus memperhatikan supaya tidak menyakiti orang lain. Bahkan, dia harus memperhatikan kesejahteraan orang itu. Dia harus mempertimbangkan bagaimana dia harus bertindak supaya bisa menolong orang lain, dan bukannya menghalangi mereka dalam kesucian, kesejahteraan, atau keselamatan mereka. Orang-orang yang membiarkan diri melakukan segala sesuatu yang tidak jelas-jelas terlihat sebagai dosa, seringkali jatuh dalam perbuatan jahat tanpa sengaja dan mendatangkan celaka bagi orang lain. Segala sesuatu yang boleh dilakukan, tidak dengan sendirinya berarti boleh dilaksanakan. Keadaan bisa mengubahnya menjadi sesuatu yang mendatangkan dosa meskipun hal itu sendiri sebenarnya bukan dosa. Hal-hal ini patut dipertimbangkan. Kegunaan suatu tindakan dan kecenderungannya untuk membawa perbaikan, harus dipertimbangkan sebelum hal itu dilaksanakan. Perhatikanlah, baik keuntungan orang lain maupun keuntungan diri sendiri harus diperiksa dalam banyak hal yang kita lakukan. Jika kita ingin apa yang kita lakukan itu baik. 

Di ay 25 dijelaskan rasul Paulus mengatakan bahwa mereka tidak perlu terlampau berhati-hati dan menanyakan dengan teliti kepada tukang daging di pasar apakah daging yang dijualnya itu telah dipersembahkan kepada berhala atau tidak. Daging itu dijual sebagai makanan biasa, serta boleh dibeli dan digunakan. Di ay 26 dijelaskan buah-buahan dan hasil bumi diciptakan oleh Dia, pemilik yang agung, demi manfaat dan kelangsungan hidup umat manusia, terutama anak-anak serta hamba-hamba-Nya. “Karena semua yang diciptakan Allah itu baik dan suatu pun tidak ada yang haram, jika diterima dengan ucapan syukur, sebab semuanya itu dikuduskan oleh Firman Allah dan oleh doa” (1 Tim 4:4-5), “bagi orang suci semuanya suci” (Tit 1:15). Meskipun merupakan dosa untuk menggunakan makanan yang sudah dipersembahkan kepada berhala, namun tidaklah merupakan dosa untuk menggunakannya sesudah disalahgunakan seperti itu, asalkan digunakan dengan cara yang kudus dan sesuai dengan tujuan umum kegunaannya. 


Advertisement - Scroll untuk terus membaca postingan.

Kesimpulan dan Refleksi 

Kita semua sedang melintasi dunia menuju surga mulia. Dalam dunia ini kita harus bergaul, sebab itu merupakan hakikat sosial kita, juga merupakan panggilan misi. Untuk menjaga kekudusan, jalan paling mudah adalah langsung masuk surga, alias mati secepatnya. Namun Allah menjadikan padang gurun kehidupan dunia bagai sekolah untuk memurnikan kita. Melaluinya kita mengalami penyertaan dan kuasa Allah yang memelihara serta menguduskan. Maka pergaulan dengan orang dunia adalah suatu keharusan. Orang Kristen harus belajar bergaul dengan memancarkan terang Allah sehingga pergaulan itu bukan merusak diri, tetapi membawa kemungkinan terjadinya dampak anugerah kepada yang belum mengalami. Amin. 


Catatan: 
Semua iklan yang terdapat pada website dan tulisan ini tidak ada hubungannya dengan timothysaragi.com. 

Dapatkan update artikel terbaru dari timothysaragi.com. Mari bergabung di Channel WhatsApp atau "timothysaragi.com Artikel Update", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/0029VapB7ASBVJlBihjSSW2q, kemudian join. Atau di Channel Telegram, caranya klik link https://t.me/timothysaragicomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. 


Posting Komentar

Posting Komentar