Khotbah Minggu 11 Oktober 2026 Minggu 19 Setelah Trinitatis tertulis dalam Kitab Hosea 6 ayat 1 - 6. Mari kita perdalam pemahaman kita terhadap Perikop Khotbah ini. Sesuai dengan Almanak Gereja kita yang menjadi tema Khotbah adalah "Allah Menyukai Kasih Setia." Mari kita ikuti pembahasannya.
Pendahuluan
Di dunia ini manusia sering diperhadapkan dengan dua pilihan antara hal yang disukai dan hal yang tidak disukai. Sesuatu yang kita sukai merupakan sesuatu yang sesuai dengan harapan dan yang dapat mendatangkan kepuasan bagi kita; begitu juga sebaliknya sesuatu yang tidak sukai merupakan sesuatu yang tidak kita harapkan dan yang menyebabkan kekecewaan atau ketidak puasan bagi kita. Dari dua pilihan tersebut, tentu kita memilih hal lebih kita sukai dibandingkan dengan hal yang tidak kita sukai.
Dalam teks khotbah evangelium ini, nabi Hosea menyatakan dalam pemberitaanNya mengenai hal – hal yang disukai oleh Allah untuk diwujudnyatakan oleh umat-Nya, Israel. Sebagai umat pilihan, umat Israel memiliki tugas dan kewajiban untuk mewujudnyatakan hal – hal apa yang TUHAN kehendaki dari mereka. Agar kita dapat lebih memahami pemberitaan ini, kita akan memasuki penjelasan nas.
Pembahasan
Hosea anak Beeri merupakan seorang nabi yang melakukan tugas kenabiannya di Israel Utara pada masa kerajaan Yerobeam bin Yoas atau yang lebih dikenal dengan Yerobeam II (sekitar 793–753 SM). Dari tahun tersebut kita dapat mengerti bahwa Hosea memiliki konteks yang sama dengan nabi Amos. Pada masa pemerintahan Yerombeam II, kerajaan Israel jatuh kepada penyembahan berhala seperti yang telah dilakukan ketika Yerobeam I memerintah Israel Utara. Selain penyembahan berhala, pada masa pemerintahan Yerobeam II terjadi banyak perbuatan kekejian, penindasan, ketidakadilan dan berbagai perbuata jahat lainnya. Orang miskin menjadi bahan injakan dan korban kepuasan birahi orang kaya, keadilan ditentukan dengan banyaknya uang, jabatan dan kenalan, budak tidak dipandang sebagai manusia memiliki hak hidup untuk merdeka melainkan dipandang sebagai tawanan yang mana hak hidupnya hanyalah untuk kepentingan tuannya.
Hosea dalam tugas panggilannya sebagai nabi disuruh untuk menikah dengan seorang perempuan sundal (pelacur). Pernikahan ini sebagai gambaran bangsa Israel Utara yang tidak setia dalam melakukan ibadah kepada TUHAN, mereka melakukan “pelacuran” dengan melakukan penyembahan kepada berhala. Melalui keluarga Hosea ini, Allah menyatakan hal – hal yang akan Ia perbuat kepada bangsa Israel Utara, termasuk mengenai ibadah yang sering mereka lakukan. Ucapan mereka dalam ibadahnya adalah TUHAN, akan tetapi hati dan pikiran mereka jauh dari TUHAN.
Dalam perikop ini, nabi Hosea memiliki kerinduan agar umat Israel bertobat dan makin mengenal Allah yang kasih setia-Nya tidak berubah kepada umat-Nya. Hosea menggambarkan Allah seperti fajar sebab Hosea hendak berbicara tentang kasih setia Tuhan. Tuhan tidak pernah ingkar janji; Janji-Nya pasti digenapi. Ia pasti akan datang dan menolong umat-Nya sama seperti fajar yang pasti datang membawa terang dan mengusir kegelapan. Hosea menggambarkan Allah seperti hujan yang mendahului datangnya musim semi. Air dari musim penghujan akan mengairi bumi sehingga bumi menumbuhkan benih tanaman yang kemudian siap dipanen. Hasil panen itu akan memenuhi lumbung-lumbung. Artinya, berkat dan kasih setia Allah akan terus tersedia dari musim ke musim. Sungguh indah jika kita menyadari kasih setia Tuhan, terlebih tatkala kita sedang merasa putus harapan atau musim kehidupan kita terasa kering kerontang. Menyadari Tuhan yang setia akan sungguh menjadi secercah cahaya yang menerangi jalan kita; bagaikan oase di tengah gurun kering, yang memberi kita kesegaran dan kekuatan untuk terus melangkah di dalam iman.
Memang ada kalanya Allah mempersilahkan hal – hal yang menyakitkan atau bencana terjadi atas umat-Nya karena pemberontakan mereka. Terjadi kekacau balauan bahkan kehancuran dapat dipahami sebagai penghukuman Allah atas umatNya. Untuk itulah, melalui Hosea, Allah mengkehendaki agar umat Israel Utara segera mengenal dan menyesali semua perbuatan dosa dan jahat mereka. Mereka harus mengenal kebaikan serta kemurahan hati Allah. Tidak ada pertobatan yang sia – sia jika pertobatan itu dilakukan dengan sepenuhnya dan tidak main – main.
Pertobatan berasal dari sepenuh hati akan merubah cara pandang kita terhadap pengenalan TUHAN, Allah kita. Tidak ada yang lebih indah dan lebih disukai dibandingkan kasih setia TUHAN. TUHAN telah menyatakan kasih setia-Nya kepada kita melalui pemulihan yang akan Ia perbuat; Ia sendiri akan menyembuhkan umat-Nya dari keterpurukan yang terjadi. Kasih setia TUHAN datang seperti fajar yang akan meleyapkan kegelapan malam. Pada ayat 4 TUHAN, Allah Israel memperhadapkan kasih setia umat itu dengan kasih setia-Nya. Kasih setia umat itu ibarat seperti embun yang hilang pagi – pagi benar. Kasih setia itu tidak menetap, memiliki batas waktu dan dapat hilang. Namun, kasih setia TUHAN adalah kekal, tetap.
Setiap orang yang menerima dan mengalami kasih setia TUHAN, maka ia akan melanjutkan kasih setia TUHAN kepada orang lain. Manusia merespon kasih setia Allah dengan dua hal yaitu: beribadah dan berbuat kasih setia kepada orang lain. Ibadah tidak cukup menyatakan syukur telah beroleh kasih setia, namun harus berlanjut dengan berbuat kasih setia seperti: mengampuni, membantu orang lemah, menyatakan pembebasan dan kemerdekaan bagi orang yang tertindas, menyatakan keadilan yang merata dan adil, menyatakan tahun rahmat TUHAN telah datang.
Pada ay. 6 dikatakan TUHAN lebih menyukai perbuatan kasih setia dari pada korban sembelihan. Ritus ibadah yang hanya dilaksanakan secara formalitas. Ibadah mereka hanya sebagai topeng menutup keberdosaan mereka dan hanya sebagai kegiatan formalitas tanpa mempunyai dampak baik bagi orang lain. Ibadah hanya dipahami sebagai usaha mereka untuk menutupi dosa mereka dan diartikan sebagai pemakluman atas segala dosa dan kejahatan yang mereka lakukan. TUHAN, Allah Israel mengkritik dan menegor ritus ibadah mereka. Ibadah itu tidaklah pemuas perasaan umat untuk mengenal TUHAN; tidak hanya sebagai perjumpaan mereka dengan TUHAN melainkan bagaimana berbuat kasih setia kepada semua orang sebagai respon umat telah bertemu dengan TUHAN.
Kesimpulan dan Refleksi
Perikop evangelium hari ini merupakan penekankan bahwa meskipun Israel telah memberontak dan seharusnya mendapat murka Allah, ada panggilan untuk bertobat, menyesali segala pemberontakannya dan kembali kepada TUHAN yang memiliki kuasa untuk menyembuhkan, bukan sekadar mengakhiri penderitaan dengan kematian. Pesan utamanya adalah bahwa Tuhan lebih menginginkan kesetiaan dan pengetahuan akan Tuhan daripada korban sembelihan yang hanya bersifat lahiriah, yang berarti ketaatan dan hubungan yang tulus lebih penting daripada upacara keagamaan tanpa makna.
Tuhan dengan jelas menyatakan bahwa Ia "menginginkan kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan lebih menyukai pengenalan akan Allah daripada korban bakaran". Ini adalah penekanan pada hubungan personal yang tulus dengan Tuhan. "Pengenalan akan Allah" (terutama dalam konteks Perjanjian Baru, seperti yang Yesus kutip di Matius 9:13 dan 12:7) berarti memahami sifat-sifat-Nya, termasuk belas kasihan, dan hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Tindakan seperti kasih setia dan pengenalan akan TUHAN lebih berati daripada persembahan kurban yang dilakukan tanpa tulus. Amin.





Posting Komentar