Khotbah Minggu 27 September 2026 Minggu 17 Setelah Trinitatis tertulis dalam Kitab Mazmur 25 ayat 15 - 22. Mari kita perdalam pemahaman kita terhadap Perikop Khotbah ini. Sesuai dengan Almanak Gereja kita yang menjadi tema Khotbah adalah "Mataku Tetap Terarah kepada Tuhan." Mari kita ikuti pembahasannya.
Pendahuluan
Anugerah Tuhan kita Yesus Kristus, cinta kasih setia Allah Bapa dan persekutuan Roh kudus menyertai kita sekalian, amin.
Pernahkah kita merasa rasa sakit yang begitu menyakitkan? Atau memiliki pergumulan dan penderitaan yang sangat berat sehingga kita butuh teriak, menangis, meratap atau kita butuh berbuat sesuatu untuk melampiaskan rasa sakit, ingin lepas dari pergumulan atau penderitaan yang sangat berat tersebut. Mungkin kita butuh teman yang siap sedia mendengarkan kita ketika kita ingin cerita (curhat). Akan tetapi, dalam kehidupan ini tidak semua teman yang mau atau bersedia untuk mendengarkan keluhan, jeritan, curahan hati kita dan ada pula sebahagian yang mau mendengarkan kita namun itu dijadikan alat untuk menilai pribadi kita, atau kita justru menjadi disudutkan. Tidak menjadi pemberi solusi (jalan keluar) melainkan untuk menjatuhkan.
Dalam Nas khotbah ini merupakan suatu syair/ nyanyian dari seorang pemazmur yang mencurahkan isi hatinya, keluhannya atau bahkan jeritannya tidak kepada manusia melainkan kepada TUHAN, Allahnya. Agar kita dapat mengerti jelas apa yang ingin disampaikan oleh Daud melalui Mazmurnya ini, marilah kita masuk kepada penjelasan nas.
Pembahasan
Dari segi kepengarangannya atau penulisnya, kitab Mazmur 25 ini merupakan mazmur yang dituliskan oleh Daud, seorang raja Israel. Allah memilih dan menetapkan Daud menjadi seorang raja atas Irsrael melalui pengurapan yang dilakukan oleh Samuel ketika raja Saul menjabat menjadi raja atas Israel. Ketika Daud berhasil mengalahkan Filistin melalui kekalahan Goliat, banyak umat Israel menyerukan agar Daud menjadi raja dan membandingkan kekuatan Daud dengan Saul. Hal ini tentunya membuat Saul cemburu dan memiliki rencana untuk membunuh Daud. Daud memiliki seorang sahabat yang bernama Jonathan dan istri yang bernama Milkha, putri Saul.
Situasi hati saul pun sudah semakin panas ketika semakin banyak orang Israel yang simpatik padanya dan mengeluelukan agar Daud menjadi raja menggantikan Saul. Situasi ini membuat Saul ingin sekali membunuh Daud, yang walaupun Daud adalah menantunya dan sahabat dari anaknya. Daud harus melarikan diri dan meninggalkan keluarganya, sahabatnya. Ia berada dalam kondisi pengejaran dan ancaman kematian. Bagi Saul kematian Daud adalah upaya mempertahankan posisi kerajaannya.
Pada saat itulah Daud meratapi kondisi hidupnya di bawah tekanan, ancaman dan pengejaran yang dilakukan oleh Saul. Sahabat dan istri yang ia kasihi pun tidak mampu meredamkan kemarahan dan kecemburuan Saul. Ia tidak tahu kepada siapa harus menangis dan meratap. Ia tidak tahu siapakah manusia yang mau mendengarkan tangisan, cerita hatinya. Ia pun harus bersembunyi di daerah Ziklag daerah kekuasaan Filisitin. Kita tahu bahwa Filistin dan Israel merupakan dua bangsa yang bermusuhan. Ketika bangsa Filistin mengetahui Daud bersembunyi di sana, Filistin pun ingin menangkap dan membunuhnya. Situasi demikian semakin membuat Daud kesakitan dan ketakutan.
Kita mengetahui Daud memiliki kedekatan yang erat dengan TUHAN Allah. Dalam kondisi yang begitu sedih itulah, ia memberanikan diri menyatakan seberapa dekat dia kepada TUHAN Allahnya. Daud memandang kepada TUHAN dengan harapan bahwa TUHAN memperhatikan pergumulannya, TUHAN memperhatikan dan mendengarkan jeritan kesakitannya dan tekanan yang ia hadapi. Pergumulan dan penderitaan yang ia alami juga turut mengganggu secara kejiwaan dan batinnya. Dengan mata yang senantiasa memandang kepada Allah, maka Daud dapat berjalan dengan penuh kekuatan yang berasal daripada Allah. Jaring dalam hal ini dapat berarti sebuah perangkap atau rencana jahat yang bertujuan untuk menghancurkan kehidupan Daud. Demikian Daud mempersaksikan bahwa Allah yang menolong dan membebaskan dia dari ancaman yang menjeratnya. Ungkapan iman bahwa Allah yang menolong Daud menjadi dasar dari permohonan yang hendak ia sampaikan kepada Allah. Pada menunjukkan sebuah pergulatan batin yang besar daripada Daud. Dalam kesesakannya Daud merasa seperti ditinggalkan dan tidak lagi dipandang oleh Allah. Mulanya Daud mengarahkan pandangannya kepada Allah dan kemudian ia merasa bahwa Allah tidak membalas pandangannya. Daud memohonkan agar Allah berpaling kepada Daud dan mengasihani dia karena penderitaannya. Oleh karena beratnya kesusahan Daud maka ia mengekspresikannya dengan perasaan sepi (sebatang kara) yang seperti diisolasi oleh keadaan dan perasaan tertindas yang disebabkan oleh kesulitan hidup yang menekan dirinya.
Ayat ke-17 menyatakan permohonan Daud agar ia dibebaskan dari perasaan yang pergumulan, rasa sakit dan ketakutan yang ia alami. Semuanya itu dapat dipahami terjadi pada dua sisi hidup Daud, yaitu dalam sisi eksternal yang mengancam hidupnya dan sisi internal yang membuat dirinya merasa sesak oleh karena ketakutan dan kekhawatiran di dalam dirinya. Hal ini menggambarkan situasi psikosomatik – tekanan batin yang mempengaruhi kesehatan atau fisik. Akan tetapi permohonan yang jujur atas apa yang dirasakan Daud menunjukkan iman Daud yang dekat dan mengenal Allah yang mendengarkan jeritan hatinya.
Penderitaan yang dialami oleh Daud sering membawa pada perenungan yang mendalam tentang peran dan keberadaan Allah yang terasa sulit untuk dirasakan. Daud merasakan kehampaan dan kegelisahan yang besar di tengah ancaman dari para musuhnya. Ay. 18 menunjukkan bagaimana Daud sangat memohon agar Tuhan melihat dan menatap sengsara dan kesukaran Daud. Permohonan ini memperlihatkan bahwa Daud meyakini bahwa Allah mengenal umat-Nya dan segala penderitaan yang dirasakannya. Keyakinan tersebut berlanjut pada penyerahan diri. Selanjutnya pada ayat ke-19 Daud kembali kepada keadaan nyata bahwa situasinya sedang dalam ancaman dari musuhnya.
Dalam menanggapi hal ini Daud pada ayat ke-20 memohon perlindungan dari Allah. Perlindungan yang Daud minta bukan hanya perlindungan dari ancaman musuh secara fisik, tetapi juga perlindungan akan batinnya yang sedang bergejolak yang diungkapkan dengan “jiwaku”. Daud juga mengatakan agar ia jangan mendapat malu. Malu dalam hal ini bukan sebuah perasaan canggung, melainkan sebuah perasaan akan kegagalan total dan kekalahan yang memalukan di mata musuh. Kepercayaan Daud akan penyertaan Tuhan menjadi sebuah benteng spiritual terhadap rasa malu tersebut.
Pengalaman diri dan kesaksian akan pertolongan Tuhan membuat Daud menyadari bahwa Tuhan lebih besar daripada segala pergumulannya. Demikian pada ayat ke-21 Daud menyatakan agar ketulusan hati dan kejujuran melingkupi dia di dalam penantiannya akan pertolongan Tuhan. Ketulusan dan kejujuran hati merupakan simbol dari integritas iman Daud terhadap Allah. Ketulusan mendorong Daud agar ia tidak memiliki niat yang jahat dan berpaling daripada Tuhan. Dalam kondisi pergumlan, penderitaan dan kesakitan yang ia alami tidak membuat dia mundur untuk meyakini dan menantikan pertolongan dari TUHAN.
Kejujuran mendorong Daud agar ia tetap hidup benar di hadapan Allah tanpa berusaha menutupi kesalahan atau dosa yang telah ia lakukan. Kedua hal ini dimohonkan oleh Daud agar ia jangan jatuh ke dalam pencobaan yang membuatnya jauh daripada Tuhan. Dengan demikian penantian Daud akan pertolongan Tuhan tidak menjadi sia-sia. Permohonan yang disampaikan Daud bukan hanya untuk dirinya sendiri, melainkan juga kepada bangsa yang ia pimpin, yaitu bangsa Israel. Pada ayat ke-22 Daud mengubah fokus permohonan doanya bukan hanya kepada dirinya sendiri, melainkan juga kepada bangsa Israel. Ini merupakan sebuah lompatan iman yang menandakan bahwa pergumulan batin Daud secara pribadi juga mewakili pergumulan batin bangsa Israel. Daud menunjukkan kepemimpinan yang bertanggung jawab di hadapan Allah. Dengan demikian doa permohonan Daud melampaui kepentingan pribadi dan mencakup visi pembebasan yang lebih besar.
Kesimpulan dan Refleksi
Setelah kita membaca dan memahami nas khotbah ini kita diarahkan dengan syair sebuah lagu: “Kupandang wajahmu dan berseru pertolonganku datang dari-Mu. Peganglah tanganku jangan lepaskan Kaulah harapan dalam hidupku.” Lagu ini menyiratkan kita mengenai bagaimana seseorang (pencipta/ pengarang lagu) menyatakan bahwa TUHAN-lah harapan baginya dalam menghadapi pergumulan dan penderitaan yang begitu berat. Mungkin kita hampir menyerah, putus asa mengapa aku harus menghadapi pergumulan yang begitu berat, apakah TUHAN tidak memandang kita menghadapi penderitaan dan tekanan hidup yang semakin mencekam?
Nas khotbah ini mengajarkan kita agar kita tidak mengandalkan kekuatan atau mengandalkan apa yang ada pada kita untuk menghadapi pergumulan atau penderitaan sebab semuanya terbatas. Pandanglah kepada TUHAN melalui doa, memohon kekuatan bagi kita. Kalaupun kita sudah tidak mampu bangkit, segeralah berlutut di hadapan TUHAN; ketika kepala kita tidak mampu lagi tegak, segeralah menunduk menyembah kepada Allah. Pandanglah Allah dalam doamu, berserulah. Ingat Allah tidak jauh dari kita. Dia mendengarkan dan akan memulihkan kita dan mengangkat kita pada kemuliaan-Nya. Amin.





Posting Komentar