Perkataan ini disampaikan oleh Tuhan Yesus kepada murid-murid-Nya ketika Ia sedang menjelaskan tentang apa artinya menjadi pengikut-Nya. Yesus tidak menyembunyikan kenyataan bahwa mengikut Dia bukanlah jalan yang selalu mudah. Menjadi murid Kristus berarti bersedia menyangkal diri, memikul salib dan terus mengikut Dia setiap hari.
Ketika kita mendengar kata “menyangkal diri”, kita mungkin berpikir bahwa menjadi pengikut Kristus berarti membenci diri sendiri, tidak boleh memiliki keinginan, atau harus menghilangkan seluruh keinginan pribadi. Tetapi bukan itu yang dimaksudkan oleh Yesus. Menyangkal diri bukan berarti menganggap diri kita tidak berharga. Menyangkal diri berarti tidak lagi menjadikan diri sendiri sebagai pusat dari segala sesuatu.
Sering kali dalam hidup ini, kita lebih mudah bertanya, “Apa yang saya mau?” “Apa yang menguntungkan bagi saya?” “Apa yang membuat saya nyaman?” Tetapi ketika kita sungguh-sungguh menjadi pengikut Kristus, pertanyaan kita mulai berubah. Kita belajar bertanya, “Apa yang Tuhan kehendaki?” dan “Bagaimana saya harus hidup sesuai dengan kehendak Tuhan?” Di situlah penyangkalan diri mulai nyata dalam kehidupan kita.
Yesus juga berkata bahwa hal itu harus dilakukan setiap hari. Ini adalah bagian yang sangat penting. Mengikut Kristus bukan keputusan yang hanya dilakukan satu kali dalam hidup. Bukan hanya ketika kita dibaptis, menerima sidi, datang beribadah ke gereja, atau mengaku percaya kepada Tuhan Yesus. Mengikut Kristus adalah panggilan yang harus dijalani setiap hari.
Setiap hari kita berhadapan dengan pilihan. Ada saat ketika keinginan kita bertentangan dengan kehendak Tuhan. Ada saat ketika kita ingin membalas perkataan orang lain, tetapi Tuhan mengajar kita untuk mengampuni. Ada saat ketika kita ingin mengambil keuntungan bagi diri sendiri, tetapi Tuhan mengajar kita untuk berlaku jujur. Ada saat ketika kita ingin mengikuti apa yang menyenangkan hati, tetapi firman Tuhan mengingatkan kita untuk memilih apa yang benar.
Di situlah penyangkalan diri menjadi nyata. Menyangkal diri berarti kita bersedia mengatakan tidak kepada keinginan diri sendiri ketika keinginan tersebut bertentangan dengan kehendak Tuhan. Kita tidak lagi berkata bahwa semua yang kita inginkan harus kita lakukan. Kita belajar menempatkan kehendak Tuhan di atas kehendak pribadi.
Yesus kemudian berkata, “memikul salibnya”. Bagi kita sekarang, salib sering kali menjadi simbol iman Kristen. Tetapi bagi orang-orang yang hidup pada zaman Yesus, salib adalah lambang penderitaan, penghinaan, penolakan dan kematian. Karena itu, ketika Yesus berbicara tentang memikul salib, Ia sedang menunjukkan bahwa mengikut Dia memiliki harga dan pengorbanan.
Memikul salib bukan berarti setiap masalah, penyakit, kegagalan atau kesulitan yang kita alami otomatis adalah salib yang harus kita pikul. Salib dalam konteks ini berkaitan dengan kesediaan untuk tetap setia kepada Kristus sekalipun kesetiaan itu memiliki konsekuensi dan pengorbanan.
Ada kalanya kita harus kehilangan sesuatu karena memilih untuk tetap jujur. Ada kalanya kita harus menolak kesempatan yang sebenarnya menguntungkan karena cara mendapatkannya tidak benar. Ada kalanya kita harus tetap melakukan yang benar walaupun tidak dihargai. Ada kalanya kita harus menahan diri untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Semua itu tidak selalu mudah. Tetapi ketika kita memilih untuk tetap setia kepada Kristus di tengah keadaan tersebut, kita sedang belajar memikul salib.
Yang terakhir, Yesus berkata, “mengikut Aku”. Inilah tujuan dari semuanya. Menyangkal diri dan memikul salib tidak berdiri sendiri. Semuanya berkaitan dengan keputusan untuk mengikut Kristus.
Mengikut Kristus berarti menjadikan kehidupan Yesus sebagai teladan dan kehendak-Nya sebagai arah kehidupan kita. Karena itu, kekristenan bukan hanya tentang nama, identitas, atau kegiatan keagamaan. Kekristenan adalah kehidupan yang terus berjalan bersama Kristus.
Karena itu, menjadi Kristen bukan hanya soal ke mana kita pergi pada hari Minggu, tetapi bagaimana kita menjalani kehidupan setiap hari. Bagaimana kita berbicara kepada orang lain. Bagaimana kita memperlakukan keluarga. Bagaimana kita menjalankan pekerjaan. Bagaimana kita menggunakan uang. Bagaimana kita mengambil keputusan. Bagaimana kita memperlakukan orang yang menyakiti kita. Bahkan bagaimana kita hidup ketika tidak ada seorang pun yang melihat kita.
Di dalam kehidupan sehari-hari itulah kesungguhan iman kita diuji. Sangat mudah mengatakan bahwa kita adalah pengikut Kristus ketika berada di gereja. Tetapi kehidupan seorang pengikut Kristus juga harus terlihat ketika berada di tempat kerja, di rumah, di tengah masyarakat, bahkan ketika kita sendirian.
Tentu saja, menjadi orang Kristen tidak berarti bahwa kita tidak pernah jatuh ke dalam dosa. Kita masih manusia yang memiliki kelemahan. Kita dapat salah, gagal dan jatuh. Tetapi seorang pengikut Kristus tidak menjadikan dosa sebagai sesuatu yang dengan sengaja dipelihara dan dibenarkan dalam kehidupannya. Ketika jatuh, kita dipanggil untuk bertobat, kembali kepada Tuhan dan terus belajar berjalan dalam kehendak-Nya.
Yesus berkata, “Setiap hari ia harus menyangkal dirinya.” Artinya, setiap hari kita kembali diperhadapkan kepada pertanyaan yang sama: Apakah saya akan mengikuti keinginan saya sendiri, ataukah saya bersedia mengikuti kehendak Tuhan?
Mungkin hari ini ada keinginan yang harus kita lepaskan. Mungkin ada kebiasaan yang harus kita tinggalkan. Mungkin ada sikap yang harus kita ubah. Mungkin ada pengampunan yang harus kita berikan. Mungkin ada keputusan yang harus kita ambil berdasarkan kebenaran firman Tuhan, sekalipun keputusan itu tidak mudah.
Menyangkal diri memang tidak selalu mudah. Memikul salib juga tidak selalu nyaman. Tetapi Tuhan tidak pernah memanggil kita untuk mengikut Dia tanpa memberikan pertolongan. Tuhan yang memanggil kita juga adalah Tuhan yang memberikan kekuatan kepada kita untuk menjalani panggilan tersebut.
Hendaklah kita tidak menjadi orang Kristen hanya dalam nama. Janganlah kita hanya memiliki identitas sebagai orang Kristen, tetapi kehidupan kita tidak menunjukkan bahwa kita sedang mengikut Kristus. Marilah kita sungguh-sungguh menjadi pengikut Kristus dalam kehidupan kita setiap hari.
Iman bukan hanya untuk diucapkan, tetapi untuk dijalani. Kekristenan bukan hanya tentang datang kepada Kristus, tetapi tentang terus berjalan bersama Kristus. Setiap hari kita belajar menyangkal diri, setiap hari kita belajar memikul salib, dan setiap hari kita belajar mengikut Yesus.
Kiranya Tuhan menolong kita supaya dalam setiap keputusan, perkataan dan tindakan, kita tidak hanya bertanya tentang apa yang kita inginkan, tetapi juga bersedia bertanya: “Apa yang Tuhan kehendaki dalam hidup saya?” Tuhan menyertai kita sekalian. Amin.
Selamat menjalani kehidupan.Doa:
Tuhan, kami bersyukur karena Engkau telah memanggil kami untuk menjadi pengikut-Mu. Tolonglah kami agar setiap hari kami mampu menyangkal diri, meninggalkan keinginan yang tidak sesuai dengan kehendak-Mu dan setia memikul salib kami. Ajarlah kami untuk tidak hanya mengaku sebagai orang Kristen, tetapi sungguh-sungguh hidup sebagai pengikut-Mu dalam perkataan, perbuatan dan seluruh kehidupan kami. Berikan kami kekuatan ketika jalan yang kami tempuh tidak mudah, dan tuntunlah kami agar tetap setia mengikuti-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
Ditulis oleh Pdt. Timothy Saragi



Posting Komentar