wvsOdYmDaT9SQhoksZrPLG0gYqduIOCNl12L9d9t
Bookmark

Renungan Harian 15 September 2026 - Yang Tuhan Kehendaki


Bacaan:
 
Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu? 
- Mikha 6:8 

Ketika kita membaca ayat ini, kita menemukan sebuah pertanyaan yang sangat penting bagi kehidupan orang percaya: Apakah sebenarnya yang Tuhan kehendaki dari kehidupan kita? Pertanyaan ini penting karena terkadang kita memiliki pikiran sendiri tentang bagaimana menjadi orang yang berkenan di hadapan Tuhan. Kita mungkin berpikir bahwa selama kita rajin beribadah, pergi ke gereja, berdoa, memberikan persembahan, dan aktif dalam berbagai kegiatan gereja, berarti kehidupan kita sudah pasti menyenangkan hati Tuhan. Tetapi Mikha 6:8 membawa kita untuk melihat sesuatu yang lebih dalam. Tuhan tidak hanya melihat bagaimana kita menjalankan kegiatan keagamaan, tetapi juga bagaimana kita menjalani kehidupan. 

Untuk memahami ayat ini dengan baik, kita perlu melihat konteksnya. Mikha 6:1-8 menggambarkan sebuah perkara antara Tuhan dan umat-Nya. Tuhan mengingatkan umat Israel tentang apa yang telah dilakukan-Nya terhadap mereka. Tuhan telah membawa mereka keluar dari Mesir, memberikan pemimpin-pemimpin kepada mereka, dan menyertai perjalanan mereka. Namun umat Tuhan itu justru datang dengan pertanyaan: Dengan apakah mereka harus menghadap Tuhan? Mereka kemudian berbicara tentang korban bakaran, anak lembu, bahkan korban yang jumlahnya semakin besar dan berlebihan. 

Seolah-olah umat sedang bertanya, "Apa yang harus kami berikan kepada Tuhan supaya Tuhan berkenan kepada kami?" Tetapi jawaban Tuhan melalui Mikha justru mengarahkan mereka kepada kehidupan. Tuhan berkata, "Telah diberitahukan kepadamu apa yang baik." Artinya, apa yang Tuhan kehendaki bukanlah sesuatu yang sama sekali baru dan tidak pernah diketahui oleh umat-Nya. Israel sudah lama mengenal kehendak Tuhan melalui Taurat dan melalui seluruh perjalanan mereka bersama Tuhan. 

Karena itu, ketika dikatakan "telah diberitahukan kepadamu", kita tidak perlu memahami bahwa Tuhan baru memberitahukan kehendak-Nya pada saat Mikha menyampaikan ayat ini. Sejak dahulu Tuhan telah menyatakan kepada umat-Nya bagaimana mereka harus hidup. Bahkan dalam bagian sebelumnya, Tuhan mengingatkan kembali karya-Nya dalam sejarah Israel. Tuhan telah menunjukkan kasih, pemeliharaan dan penyertaan-Nya kepada mereka. Jadi persoalannya bukan karena umat tidak mengetahui apa yang Tuhan kehendaki, melainkan karena kehidupan mereka tidak berjalan sesuai dengan apa yang telah Tuhan nyatakan. 

Lalu dikatakan, "telah diberitahukan kepadamu apa yang baik." Kata "baik" di sini bukan hanya berarti sesuatu yang menurut ukuran manusia dianggap baik. Yang baik adalah apa yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Tuhanlah yang menentukan ukuran kebaikan itu. Karena itu, pertanyaannya bukan hanya, "Apakah saya merasa sudah menjadi orang baik?" tetapi, "Apakah kehidupan saya sudah sesuai dengan apa yang Tuhan kehendaki?" 

Selanjutnya Mikha bertanya, "Apakah yang dituntut TUHAN dari padamu?" Kata "dituntut" menunjukkan bahwa Tuhan memang menghendaki sesuatu dari kehidupan umat-Nya. Hubungan kita dengan Tuhan bukan berarti kita bebas hidup sesuka hati. Tuhan telah menyatakan kehendak-Nya, dan sebagai umat-Nya kita dipanggil untuk hidup sesuai dengan kehendak tersebut. 

Menarik juga ketika ayat ini menggunakan kata "selain". Kalimatnya mengatakan, "selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu." Dalam konteks ayat ini, Mikha sedang merangkum inti kehidupan yang Tuhan kehendaki dari umat-Nya. Bukan berarti seluruh perintah Tuhan dalam Alkitab hanya terdiri dari tiga hal ini. Tetapi melalui tiga ungkapan tersebut, Mikha menunjukkan dengan sangat jelas seperti apa seharusnya kehidupan orang yang hidup di hadapan Tuhan. 

Yang pertama adalah berlaku adil. Berlaku adil berarti memperlakukan orang lain dengan benar. Keadilan bukan hanya sesuatu yang kita bicarakan, tetapi sesuatu yang harus kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Tuhan tidak menghendaki umat-Nya menindas, mengambil keuntungan dengan cara yang tidak benar, mempermainkan orang lain, atau menggunakan kekuasaan untuk kepentingan diri sendiri. 

Berlaku adil dapat terlihat dalam banyak hal sederhana. Bagaimana kita memperlakukan orang yang bekerja bersama kita. Bagaimana kita memperlakukan orang yang berada di bawah tanggung jawab kita. Bagaimana kita memperlakukan orang yang lemah dan tidak memiliki kekuatan untuk membela dirinya. Bagaimana kita menjalankan pekerjaan. Bagaimana kita menggunakan uang. Bagaimana kita mengambil keputusan ketika keputusan tersebut menyangkut kepentingan orang lain. 

Dengan demikian, Tuhan bukan hanya bertanya apakah kita rajin datang beribadah, tetapi juga apakah kita berlaku benar terhadap sesama. Tidak ada gunanya kita berbicara tentang kebaikan Tuhan tetapi dalam kehidupan sehari-hari kita justru berlaku tidak adil kepada orang lain. 

Yang kedua adalah mencintai kesetiaan. Kesetiaan bukan sekadar melakukan sesuatu yang baik satu atau dua kali. Kesetiaan berbicara tentang karakter hidup. Dalam hubungan dengan sesama, kita dipanggil untuk memiliki kasih yang setia, kebaikan, belas kasih dan ketulusan. Kita bukan hanya melakukan kebaikan ketika keadaan menguntungkan bagi kita, tetapi belajar tetap setia sekalipun tidak mendapatkan keuntungan apa-apa. 

Mencintai kesetiaan berarti menjadikan kasih dan kesetiaan sebagai sesuatu yang kita hargai dalam kehidupan. Kita tidak mudah meninggalkan orang lain hanya karena keadaan berubah. Kita tidak mudah mengingkari janji ketika janji itu mulai terasa berat. Kita tidak hanya berbuat baik kepada orang yang baik kepada kita. Kita belajar memiliki kasih yang tidak mudah berubah hanya karena keadaan. 

Yang ketiga adalah hidup dengan rendah hati di hadapan Allah. Ini bukan hanya tentang bersikap rendah hati di hadapan manusia. Hidup dengan rendah hati di hadapan Allah berarti menyadari bahwa sepanjang hidup kita berada di hadapan Tuhan. Kita bukan pusat kehidupan. Keinginan kita bukan ukuran tertinggi. Pengetahuan dan kekuatan kita juga bukan ukuran tertinggi. Tuhanlah yang menjadi pusat kehidupan kita. 

Karena itu, hidup rendah hati di hadapan Allah berarti bersedia tunduk kepada kehendak Tuhan. Ketika firman Tuhan menunjukkan bahwa kita salah, kita bersedia dikoreksi. Ketika Tuhan meminta kita meninggalkan sesuatu yang tidak benar, kita bersedia meninggalkannya. Ketika Tuhan menghendaki kita mengampuni, kita belajar mengampuni. Ketika Tuhan menghendaki kita berlaku benar sekalipun sulit, kita belajar untuk tetap melakukannya. 

Di sinilah kita perlu mengoreksi pemahaman kita tentang kehidupan beriman. Ada kalanya orang percaya berpikir bahwa selama ia sudah beribadah, pergi ke gereja, memberikan persembahan, rajin berdoa dan aktif dalam kegiatan keagamaan, maka semuanya sudah cukup. Seolah-olah semua kegiatan tersebut otomatis membuat hidupnya berkenan kepada Tuhan. 

Padahal Mikha 6:8 mengingatkan bahwa ibadah tidak boleh dipisahkan dari kehidupan. Tuhan tidak sedang mengatakan bahwa ibadah, doa dan persembahan tidak penting. Semua itu merupakan bagian dari kehidupan iman. Tetapi semua itu menjadi sia-sia apabila kehidupan kita tidak mencerminkan kehendak Tuhan. 

Kita beribadah kepada Tuhan, tetapi setelah keluar dari gereja kita tetap berlaku tidak adil kepada sesama. Kita rajin berdoa, tetapi kita tidak mau mengampuni orang lain. Kita memberikan persembahan, tetapi dalam pekerjaan kita mengambil sesuatu yang bukan hak kita. Kita menyanyikan lagu tentang kasih Tuhan, tetapi kita membenci dan merendahkan orang lain. Kita aktif dalam pelayanan, tetapi kehidupan pribadi kita jauh dari kerendahan hati di hadapan Tuhan. 

Karena itu, persoalannya bukan apakah kita beribadah atau tidak. Persoalannya adalah apakah ibadah kita menghasilkan kehidupan yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Ibadah yang benar seharusnya membawa kita untuk hidup benar. Doa seharusnya membawa kita semakin dekat kepada Tuhan dan semakin peka terhadap kehendak-Nya. Firman Tuhan seharusnya tidak berhenti pada pendengaran, tetapi terlihat dalam kehidupan. 

Tuhan tidak hanya melihat bagaimana kita datang menghadap-Nya pada hari Minggu. Tuhan melihat bagaimana kita hidup pada hari Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat dan Sabtu. Tuhan melihat bagaimana kita berbicara di rumah, bagaimana kita bekerja, bagaimana kita memperlakukan orang lain, bagaimana kita menggunakan uang, bagaimana kita mengambil keputusan dan bagaimana kita hidup ketika tidak ada seorang pun yang melihat kita. 

Di situlah "yang Tuhan kehendaki" menjadi nyata. Tuhan menghendaki kita berlaku adil. Tuhan menghendaki kita mencintai kesetiaan. Tuhan menghendaki kita hidup dengan rendah hati di hadapan-Nya. 

Maka hari ini marilah kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah kehidupan kita sudah menunjukkan ketiga hal tersebut? Apakah kita sudah berlaku adil kepada orang-orang di sekitar kita? Apakah kita sungguh-sungguh mencintai kesetiaan? Apakah kita hidup dengan rendah hati di hadapan Tuhan, atau justru lebih sering memaksakan kehendak kita sendiri? 

Mungkin kita selama ini terlalu sibuk memikirkan apa yang harus kita berikan kepada Tuhan, tetapi lupa memikirkan bagaimana Tuhan menghendaki kita menjalani kehidupan. Kita mungkin berpikir tentang persembahan yang besar, pelayanan yang banyak, atau kegiatan gereja yang begitu aktif, tetapi Tuhan juga melihat hati dan kehidupan kita. 

Yang Tuhan kehendaki bukan sekadar kehidupan yang terlihat religius di hadapan manusia. Tuhan menghendaki kehidupan yang benar di hadapan-Nya. Karena itu, marilah kita tidak menjadi orang percaya yang hanya rajin dalam kegiatan keagamaan, tetapi juga sungguh-sungguh menghadirkan kehendak Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. 

Jangan sampai kita rajin datang kepada Tuhan dalam ibadah, tetapi jauh dari kehendak Tuhan dalam kehidupan. Marilah kita beribadah dengan sungguh-sungguh, berdoa dengan sungguh-sungguh dan memberikan persembahan dengan hati yang tulus, tetapi pada saat yang sama kita juga belajar berlaku adil, mencintai kesetiaan dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allah. 

Sebab iman bukan hanya tentang bagaimana kita berbicara tentang Tuhan, tetapi bagaimana kita hidup di hadapan Tuhan. Iman bukan hanya untuk diucapkan, tetapi untuk dijalani. Dan ketika kita bertanya, "Apa yang Tuhan kehendaki dari hidup saya?", Mikha 6:8 memberikan jawaban yang begitu jelas: Berlaku adil, mencintai kesetiaan dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allah. 

Kiranya kehidupan kita tidak hanya menjadi kehidupan yang terlihat baik di hadapan manusia, tetapi sungguh-sungguh menjadi kehidupan yang berkenan kepada Tuhan. Tuhan menyertai kita sekalian. Amin. 

Selamat menjalani kehidupan. 

Doa: 

Tuhan, kami bersyukur karena Engkau telah memberitahukan kepada kami apa yang baik dan apa yang Engkau kehendaki dalam kehidupan kami. Ampunilah kami apabila selama ini kami terlalu mudah merasa bahwa kami sudah hidup benar hanya karena kami beribadah, berdoa, memberikan persembahan dan melakukan berbagai kegiatan keagamaan, tetapi kehidupan kami belum sungguh-sungguh mencerminkan kehendak-Mu. 

Ajarlah kami untuk berlaku adil kepada setiap orang, mencintai kesetiaan dan kasih, serta hidup dengan rendah hati di hadapan-Mu. Tolonglah kami agar iman kami tidak hanya terlihat dalam perkataan dan ibadah, tetapi juga nyata dalam setiap keputusan, perkataan dan perbuatan kami setiap hari. Bentuklah kehidupan kami agar semakin sesuai dengan kehendak-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin. 

Ditulis oleh Pdt. Timothy Saragi 

Catatan: 
Semua iklan yang terdapat pada website dan tulisan ini tidak ada hubungannya dengan timothysaragi.com. 

Dapatkan update artikel terbaru dari timothysaragi.com. Mari bergabung di Channel WhatsApp atau "timothysaragi.com Artikel Update", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/0029VapB7ASBVJlBihjSSW2q, kemudian join. Atau di Channel Telegram, caranya klik link https://t.me/timothysaragicomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. 
0

Posting Komentar