Ketika membaca kitab Nahum, kita bertemu dengan sebuah berita yang cukup keras tentang Niniwe, ibu kota Asyur. Hal ini mungkin membuat kita bertanya-tanya, terutama jika kita mengingat kisah Yunus. Dalam kitab Yunus, Niniwe diberi kesempatan untuk bertobat. Ketika penduduk Niniwe berbalik dari kejahatan mereka, Tuhan melihat pertobatan mereka dan tidak jadi mendatangkan malapetaka yang telah dinyatakan-Nya. Lalu mengapa dalam kitab Nahum Niniwe justru diberitakan akan mengalami kehancuran? Apakah Tuhan berubah, dari Allah yang penuh kemurahan menjadi Allah yang menghukum?
Jawabannya tidak demikian. Justru ketika kita membaca Yunus dan Nahum bersama-sama, kita dapat melihat bahwa Tuhan adalah Allah yang penuh kemurahan sekaligus Allah yang adil. Tuhan memberikan kesempatan kepada orang berdosa untuk bertobat, tetapi kemurahan Tuhan tidak berarti bahwa kejahatan boleh terus berlangsung tanpa batas. Tuhan mengampuni orang yang sungguh-sungguh bertobat, tetapi Tuhan juga tidak membiarkan penindasan dan kejahatan berlangsung selamanya.
Asyur pada zaman Nahum adalah sebuah kekuatan besar. Niniwe merupakan ibu kota kerajaan Asyur yang pernah menjadi kekuatan yang sangat berpengaruh di kawasan itu. Asyur telah menaklukkan banyak bangsa dan menjadi ancaman bagi bangsa-bangsa lain, termasuk Yehuda. Karena itu, ketika Nahum berbicara mengenai "mereka" yang "utuh dan begitu banyak jumlahnya", yang dimaksudkan adalah kekuatan Asyur yang masih terlihat kuat dan besar. Mereka belum terlihat seperti bangsa yang akan segera jatuh. Mereka masih mempunyai kekuatan, jumlah dan kemampuan untuk mempertahankan kekuasaan mereka.
Namun Tuhan berkata: "Sekalipun mereka utuh dan begitu banyak jumlahnya, mereka akan terbabat dan mati binasa." Di sini kita melihat bahwa kekuatan yang besar menurut ukuran manusia tidak berarti akan bertahan selamanya. Asyur mungkin melihat dirinya kuat, tetapi Tuhan menunjukkan bahwa kekuatan manusia mempunyai batas. Apa yang terlihat kokoh hari ini dapat runtuh ketika Tuhan bertindak.
Kata "terbabat" memberikan gambaran yang sangat kuat. Gambaran yang digunakan berhubungan dengan tindakan memotong atau mencukur. Kita dapat membayangkan rumput yang tinggi dan banyak, tetapi ketika dibabat, dalam waktu singkat semuanya menjadi rata. Demikian juga dengan kekuatan Asyur. Mereka yang kelihatannya begitu banyak dan kuat ternyata tidak mempunyai kekuatan yang kekal di hadapan Tuhan.
Hal ini sejalan dengan Nahum 1:9 yang berkata, "Apakah yang kamu rancangkan terhadap TUHAN? Ia akan menghabisinya sama sekali." Asyur dapat merancang berbagai hal. Mereka dapat menyusun kekuatan, membangun kekuasaan dan merencanakan penaklukan. Tetapi rencana manusia tidak pernah berada di atas kedaulatan Tuhan. Manusia dapat merencanakan, tetapi Tuhan tetap memegang kendali atas sejarah.
Setelah berbicara mengenai kehancuran mereka yang kuat dan banyak, ayat 12 beralih kepada "engkau". Yang dimaksud adalah umat Tuhan yang telah mengalami tekanan dan penindasan. Tuhan berkata, "Sekalipun Aku telah merendahkan engkau, tetapi Aku tidak akan merendahkan engkau lagi." Kata "merendahkan" dalam konteks ini berkaitan dengan penderitaan, tekanan dan keadaan ketika umat Tuhan berada di bawah penindasan. Tuhan mengetahui bahwa mereka telah mengalami keadaan yang berat.
Kalimat "Aku tidak akan merendahkan engkau lagi" bukan berarti setelah itu umat Tuhan tidak akan pernah mengalami persoalan apa pun. Ayat ini harus dibaca dalam konteks pembebasan Yehuda dari tekanan Asyur. Tuhan sedang menyatakan bahwa penindasan tersebut tidak akan berlangsung selamanya. Tuhan akan bertindak terhadap kuk yang selama ini menekan umat-Nya.
Hal itu semakin jelas dalam Nahum 1:13: "Sekarang, Aku akan mematahkan kuknya dari padamu dan memutuskan belenggu-belenggumu." Di sinilah kita melihat dengan jelas maksud Tuhan. Tuhan bukan hanya mengatakan bahwa penderitaan itu akan berakhir, tetapi Ia sendiri akan bertindak untuk mematahkan kuk dan memutuskan belenggu.
Kuk adalah gambaran tentang sesuatu yang mengikat dan mengendalikan. Karena itu, ketika Tuhan berkata bahwa Ia akan mematahkan kuk dan memutuskan belenggu, kita melihat gambaran tentang pembebasan dari penindasan. Apa yang selama ini menekan umat Tuhan tidak akan dibiarkan menguasai mereka selamanya.
Menariknya, kita kemudian sampai kepada Nahum 1:15. Setelah berbicara tentang kehancuran Niniwe dan pembebasan Yehuda, muncul gambaran tentang orang yang membawa berita damai. "Lihatlah! Di atas gunung-gunung berjalan orang yang membawa berita, yang mengabarkan berita damai!" Berita itu menjadi tanda bahwa masa penindasan telah berakhir dan umat Tuhan dapat kembali merayakan hari-hari raya mereka serta menjalankan kehidupan ibadah mereka.
Jadi jika kita melihat Nahum 1:12-15 secara keseluruhan, terdapat sebuah alur yang sangat indah: ada penindasan, kemudian Tuhan bertindak; ada kuk, kemudian kuk dipatahkan; ada belenggu, kemudian belenggu diputuskan; dan akhirnya datang berita damai. Pembebasan yang Tuhan berikan bukan hanya supaya umat-Nya terbebas dari tekanan, tetapi supaya mereka dapat kembali hidup dan beribadah kepada Tuhan dengan sukacita.
Di sinilah kita dapat memahami hubungan antara kitab Yunus dan kitab Nahum. Dalam Yunus, Tuhan menunjukkan kemurahan kepada Niniwe ketika mereka bertobat. Dalam Nahum, Tuhan menunjukkan keadilan ketika kekuatan Asyur yang menindas tidak dibiarkan berdiri selamanya. Kedua kitab ini tidak harus dipertentangkan. Keduanya memperlihatkan karakter Tuhan yang sama: Tuhan penuh kasih kepada orang yang bertobat, tetapi Tuhan juga adil dan tidak membiarkan kejahatan terus berlangsung tanpa batas.
Kemurahan Tuhan bukanlah izin untuk terus berbuat jahat. Ketika Tuhan memberikan kesempatan kepada seseorang untuk bertobat, kesempatan itu seharusnya diterima dengan sungguh-sungguh. Pertobatan bukan sekadar supaya kita terhindar dari hukuman, tetapi merupakan perubahan arah hidup. Niniwe pernah mengalami kemurahan Tuhan karena mereka berbalik dari kejahatan mereka. Karena itu, kita pun dipanggil untuk tidak menyalahgunakan kesabaran dan kemurahan Tuhan.
Di sisi yang lain, bagi orang yang sedang berada dalam penindasan, Nahum memberikan pengharapan. Jangan menganggap bahwa keadaan yang sedang kita alami sekarang pasti akan berlangsung selamanya. Jangan mengukur masa depan hanya berdasarkan kekuatan masalah yang sedang kita lihat. Asyur terlihat utuh dan begitu banyak, tetapi Tuhan berkata bahwa mereka akan terbabat. Yehuda berada dalam keadaan yang direndahkan, tetapi Tuhan berkata bahwa Ia tidak akan merendahkan mereka lagi.
Mungkin dalam kehidupan kita ada keadaan yang terasa seperti kuk. Ada persoalan yang terus menekan. Ada keadaan yang membuat kita merasa tidak berdaya. Ada orang atau situasi yang membuat kita merasa begitu rendah sehingga kita mulai berpikir bahwa kita tidak mungkin keluar dari keadaan tersebut. Dalam keadaan seperti itu, firman Tuhan mengingatkan kita bahwa Tuhan melihat penderitaan umat-Nya.
Tentu kita tidak boleh menggunakan ayat ini untuk menghakimi setiap orang yang tidak menyenangkan bagi kita sebagai "Asyur" dan kemudian menganggap bahwa Tuhan pasti akan menghancurkan mereka. Pesan Nahum bukanlah ajakan untuk membalas dendam. Pesan Nahum adalah penghiburan bahwa Tuhan tidak membenarkan penindasan dan bahwa kekuasaan manusia bukanlah kekuasaan yang kekal.
Karena itu, ketika kita berada dalam keadaan sulit, kita dipanggil untuk tetap percaya kepada Tuhan. Kita tidak harus membalas kejahatan dengan kejahatan. Kita tidak harus mengambil alih tempat Tuhan sebagai hakim. Kita dapat menyerahkan keadilan kepada Tuhan sambil tetap melakukan apa yang benar dan bertanggung jawab dalam kehidupan kita.
Dan ketika Tuhan memberikan pembebasan, jangan lupa kepada siapa kita harus kembali. Nahum 1:15 memperlihatkan bahwa setelah berita damai datang, Yehuda dipanggil untuk merayakan hari-hari rayanya dan memenuhi nazarnya kepada Tuhan. Artinya, pembebasan yang Tuhan berikan bukan hanya untuk membuat kita merasa lega, tetapi untuk membawa kita kembali hidup dalam hubungan yang benar dengan-Nya.
Mungkin hari ini kita sedang berada dalam keadaan yang terasa berat. Mungkin kita sedang merasa direndahkan oleh keadaan. Mungkin ada beban yang sudah terlalu lama kita pikul. Jangan kehilangan pengharapan. Keadaan kita hari ini bukanlah penentu terakhir dari kehidupan kita. Tuhan tetap berdaulat.
Tuhan yang sama yang memberikan kesempatan kepada Niniwe untuk bertobat adalah Tuhan yang juga bertindak menghentikan penindasan. Ia adalah Tuhan yang murah hati kepada orang yang bertobat dan Tuhan yang adil terhadap kejahatan. Karena itu, marilah kita menerima kemurahan-Nya dengan pertobatan dan tetap percaya kepada-Nya ketika kita berada dalam penderitaan.
Tuhan membebaskan yang ditindas. Ia sanggup mematahkan kuk dan memutuskan belenggu. Apa yang tampak begitu kuat menurut ukuran manusia tidaklah lebih kuat daripada Tuhan. Karena itu, jangan kehilangan iman hanya karena kita sedang berada dalam keadaan yang sulit. Tetaplah berharap kepada Tuhan, sebab Dia melihat, Dia peduli dan Dia berkuasa atas segala sesuatu. Tuhan menyertai kita sekalian. Amin.
Selamat menjalani kehidupan.
Doa:
Ya Tuhan, kami bersyukur karena Engkau penuh kasih dan adil. Terima kasih karena Engkau memberikan kesempatan kepada kami untuk bertobat dan kembali kepada-Mu. Tolonglah kami agar tidak menyalahgunakan kemurahan-Mu dengan terus hidup dalam dosa dan kejahatan. Ketika kami mengalami tekanan dan penindasan, kuatkanlah iman kami agar tetap percaya kepada-Mu. Patahkanlah segala kuk yang mengikat kehidupan kami menurut kehendak-Mu dan berikanlah kepada kami pengharapan serta damai sejahtera. Ajarlah kami untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, tetapi tetap hidup dalam kebenaran dan menyerahkan keadilan kepada-Mu. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
Ditulis oleh Pdt. Timothy Saragi



Posting Komentar