Sebagai orang Kristen, sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, barangkali kita pernah bertanya kepada diri kita sendiri: "Bagaimana ya caranya supaya aku berkenan di hadapan Tuhan? Apa yang harus aku lakukan supaya Tuhan berkenan kepada kehidupanku?"
Mungkin penafsiran kita selama ini adalah bahwa supaya berkenan kepada Tuhan, kita harus rajin beribadah, rajin berdoa, memberikan persembahan, aktif dalam pelayanan, dan melakukan berbagai kegiatan yang berkaitan dengan kehidupan peribadatan. Semua itu tentu baik dan penting dalam kehidupan orang percaya. Tetapi pertanyaannya adalah: Apakah semua aktivitas keagamaan itu dengan sendirinya membuat kehidupan kita berkenan di hadapan Tuhan?
Pertanyaan seperti ini membawa kita kepada peristiwa yang terjadi dalam Kisah Para Rasul pasal 10. Pada waktu itu Petrus datang ke rumah Kornelius di Kaisarea. Kornelius adalah seorang perwira Romawi dan bukan seorang Yahudi. Ia berasal dari bangsa yang berbeda dengan Petrus. Namun Kornelius adalah seorang yang saleh dan takut akan Allah. Ia banyak memberi sedekah kepada umat dan senantiasa berdoa kepada Allah.
Di sisi lain, Petrus adalah seorang Yahudi. Pada masa itu terdapat batas-batas yang kuat antara orang Yahudi dan bangsa-bangsa lain. Bahkan sebelumnya Petrus mendapat penglihatan dari Tuhan tentang berbagai macam binatang dan ia diperintahkan untuk menyembelih dan memakannya. Petrus menolak karena ia belum pernah makan sesuatu yang haram atau najis. Tetapi melalui peristiwa tersebut Tuhan sedang mengajar Petrus bahwa persoalannya bukan hanya mengenai makanan, melainkan juga mengenai bagaimana Petrus memandang manusia.
Karena itu, ketika Petrus bertemu dengan Kornelius dan orang-orang yang berkumpul di rumahnya, Petrus berkata: "Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang." Petrus mulai memahami bahwa Allah tidak membatasi kasih dan karya-Nya hanya kepada satu bangsa. Allah tidak melihat manusia berdasarkan bangsa, asal-usul, atau status lahiriahnya.
Kornelius adalah orang Romawi, sedangkan Petrus adalah orang Yahudi. Tetapi di hadapan Tuhan, perbedaan tersebut tidak menjadi alasan untuk mengatakan bahwa yang satu lebih berharga daripada yang lain. Allah tidak menerima seseorang hanya karena suku, bangsa, keluarga, kedudukan, kekayaan, atau status sosialnya.
Hal ini juga mengingatkan kita bahwa manusia sering kali memberikan nilai kepada orang berdasarkan apa yang kelihatan. Kita dapat menghargai seseorang karena ia memiliki jabatan yang tinggi, harta yang banyak, pendidikan yang tinggi, kemampuan yang hebat, keluarga yang terpandang, atau memiliki banyak pengaruh. Sebaliknya, kita dapat mengabaikan seseorang karena ia tidak mempunyai semua itu.
Namun ukuran Tuhan tidak demikian. Tuhan melihat manusia lebih dalam daripada apa yang dilihat oleh manusia. Status kita, asal-usul kita, harta kita, kemampuan kita, posisi kita, dan berbagai hal yang kita miliki bukanlah dasar utama yang membuat seseorang berkenan di hadapan Tuhan.
Lalu Petrus melanjutkan perkataannya: "Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya."
Apa yang dimaksud dengan takut akan Tuhan? Takut akan Tuhan bukan sekadar rasa takut karena kita membayangkan Tuhan sebagai Pribadi yang selalu siap menghukum kita. Takut akan Tuhan adalah sikap hormat kepada Tuhan, mengakui bahwa Dia adalah Tuhan, tunduk kepada-Nya, dan menyadari bahwa kehidupan kita berada di hadapan-Nya.
Orang yang takut akan Tuhan menyadari bahwa hidupnya tidak boleh dijalankan hanya menurut keinginannya sendiri. Ada kehendak Tuhan yang harus dihormati. Ada firman Tuhan yang harus didengarkan. Ada kebenaran yang harus dijalankan.
Karena itu, takut akan Tuhan bukan hanya persoalan perasaan di dalam hati. Takut akan Tuhan harus terlihat dalam kehidupan. Ketika tidak ada orang yang melihat, kita tetap berusaha hidup jujur karena kita tahu Tuhan melihat. Ketika mempunyai kesempatan untuk melakukan sesuatu yang salah, kita memilih untuk melakukan yang benar karena kita menghormati Tuhan. Ketika mempunyai kekuasaan, kita tidak menggunakannya untuk menindas. Ketika mempunyai harta, kita tidak menjadikan harta sebagai tuhan. Ketika mempunyai kemampuan, kita tidak menggunakannya untuk merendahkan orang lain.
Dengan demikian, takut akan Tuhan adalah sikap hati yang kemudian menghasilkan cara hidup. Itulah sebabnya Petrus tidak hanya mengatakan "takut akan Dia", tetapi juga "mengamalkan kebenaran." Mengamalkan kebenaran berarti kebenaran yang kita ketahui tidak berhenti sebagai pengetahuan, tetapi diwujudkan dalam kehidupan.
Kita bisa mengetahui bahwa kejujuran itu benar, tetapi apakah kita benar-benar jujur? Kita bisa mengetahui bahwa mengasihi sesama itu benar, tetapi apakah kita sungguh-sungguh mengasihi? Kita bisa mengetahui bahwa mengampuni itu benar, tetapi apakah kita mau mengampuni? Kita bisa mengetahui bahwa menolong orang lain itu baik, tetapi apakah kita mau membuka hati dan tangan untuk menolong?
Mengamalkan kebenaran berarti melakukan apa yang benar di dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, iman kepada Tuhan tidak hanya terlihat dari apa yang kita katakan, tetapi juga dari bagaimana kita hidup. Di sinilah kita kembali kepada pertanyaan: "Bagaimana supaya aku berkenan di hadapan Tuhan?"
Kita mungkin berpikir bahwa jawabannya adalah dengan semakin banyak melakukan aktivitas keagamaan. Kita rajin datang beribadah, rajin berdoa, memberikan persembahan, aktif dalam pelayanan, dan melakukan berbagai kegiatan gerejawi. Semua itu baik. Tetapi jangan sampai kita berpikir bahwa semua itu sudah cukup apabila kehidupan kita tidak menunjukkan takut akan Tuhan dan tidak mengamalkan kebenaran.
Ibadah tidak boleh dipisahkan dari kehidupan. Jangan sampai kita rajin datang kepada Tuhan dalam ibadah, tetapi jauh dari kehendak Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Jangan sampai kita mendengarkan firman Tuhan setiap minggu, tetapi firman itu tidak pernah kita lakukan. Jangan sampai kita berdoa meminta Tuhan memberkati kehidupan kita, tetapi kita sendiri tidak mau menjadi berkat bagi orang lain. Tuhan tidak hanya melihat bagaimana kita datang beribadah kepada-Nya, tetapi juga bagaimana kita menjalani kehidupan di hadapan-Nya.
Namun, perkataan Petrus ini juga tidak boleh kita pahami seolah-olah manusia dapat membeli keselamatan dengan perbuatan baik. Kornelius sendiri, meskipun ia adalah orang yang saleh, takut akan Allah, suka memberi dan senantiasa berdoa, tetap membutuhkan pemberitaan tentang Yesus Kristus. Petrus datang kepadanya untuk memberitakan Injil tentang Yesus, tentang kematian dan kebangkitan-Nya, serta tentang pengampunan dosa melalui nama-Nya.
Karena itu, "berkenan kepada Tuhan" bukan berarti manusia menjadi sempurna dan kemudian memperoleh keselamatan karena kebaikannya sendiri. Kita tetap membutuhkan kasih karunia Tuhan dan keselamatan yang diberikan melalui Yesus Kristus. Tetapi orang yang telah mengenal Tuhan dipanggil untuk hidup dalam takut akan Dia dan mengamalkan kebenaran. Dengan demikian, kehidupan Kristen bukan hanya tentang bagaimana kita terlihat di hadapan manusia, tetapi tentang bagaimana kita hidup di hadapan Tuhan.
Mungkin manusia melihat jabatan kita, tetapi Tuhan melihat hati dan kehidupan kita. Manusia melihat harta kita, tetapi Tuhan melihat bagaimana kita menggunakan apa yang dipercayakan kepada kita. Manusia melihat kemampuan kita, tetapi Tuhan melihat untuk apa kemampuan itu kita gunakan. Manusia melihat keberhasilan kita, tetapi Tuhan melihat bagaimana kita menjalani proses kehidupan dengan setia kepada-Nya. Karena itu, jangan terlalu sibuk bertanya apakah kita terlihat hebat di hadapan manusia. Mari kita lebih sering bertanya: "Apakah kehidupan saya berkenan di hadapan Tuhan?"
Apakah saya sungguh-sungguh takut akan Tuhan? Apakah saya menghormati Tuhan dalam setiap keputusan yang saya ambil? Apakah saya melakukan kebenaran ketika tidak ada orang yang melihat? Apakah firman Tuhan hanya saya dengarkan, atau sungguh-sungguh saya lakukan?
Kiranya kehidupan kita bukan hanya penuh dengan aktivitas keagamaan, tetapi juga penuh dengan ketaatan kepada Tuhan. Bukan hanya rajin datang kepada Tuhan dalam ibadah, tetapi juga hidup bersama Tuhan dalam setiap langkah kehidupan.
Pada akhirnya, kita kembali kepada pertanyaan: "Bagaimana supaya aku berkenan di hadapan Tuhan?" Jawabannya bukan terletak pada status kita, asal kita, harta kita, kemampuan kita, ataupun posisi kita. Semua itu dapat berubah dan tidak akan kita bawa selamanya.
Yang Tuhan kehendaki adalah hati yang takut akan Dia dan kehidupan yang mengamalkan kebenaran. Sebab orang yang takut akan Tuhan akan menghormati-Nya, dan orang yang sungguh-sungguh menghormati Tuhan akan berusaha menjadikan firman-Nya sebagai pedoman dalam kehidupan. Jangan sampai kita begitu sibuk berusaha terlihat baik di hadapan manusia, tetapi lupa bertanya apakah kehidupan kita sungguh berkenan di hadapan Tuhan.
Kiranya kita menjadi orang-orang yang bukan hanya mengetahui kebenaran, tetapi juga mengamalkan kebenaran; bukan hanya rajin beribadah, tetapi juga hidup dalam kehendak Tuhan; bukan hanya berbicara tentang iman, tetapi juga memperlihatkan iman itu melalui kehidupan sehari-hari. Yang berkenan kepada Tuhan bukanlah orang yang sempurna, melainkan orang yang datang kepada-Nya dengan takut akan Dia dan membiarkan kebenaran-Nya nyata dalam kehidupannya. Tuhan menyertai kita sekalian. Amin.
Selamat menjalani kehidupan.Doa:
Ya Tuhan, kami bersyukur karena Engkau tidak membedakan manusia berdasarkan apa yang dilihat oleh mata manusia. Engkau mengenal hati kami dan mengetahui seluruh kehidupan kami.
Ajarlah kami untuk sungguh-sungguh takut akan Engkau. Tolonglah kami supaya kami tidak hanya mengetahui firman-Mu, tetapi juga mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Berikanlah kami hati yang rendah, jujur, penuh kasih, adil, dan setia kepada-Mu.
Ampunilah kami apabila selama ini kami lebih banyak memikirkan bagaimana supaya terlihat baik di hadapan manusia daripada bagaimana supaya kehidupan kami berkenan di hadapan-Mu. Bentuklah kehidupan kami sehingga iman yang kami miliki benar-benar terlihat melalui perbuatan dan kehidupan kami. Di dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin.
Ditulis oleh Pdt. Timothy Saragi



Posting Komentar