wvsOdYmDaT9SQhoksZrPLG0gYqduIOCNl12L9d9t
Bookmark

Renungan Harian 9 September 2026 - Jangan Kuatir


Bacaan:
 
Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari. 
- Matius 6:34

Kita semua pernah mengalami kekuatiran. Ada kekuatiran tentang pekerjaan, keluarga, kesehatan, kebutuhan hidup, pendidikan, masa depan, dan berbagai hal lainnya. Bahkan terkadang kita belum mengalami sesuatu, tetapi pikiran kita sudah lebih dahulu membayangkan berbagai kemungkinan buruk yang kemungkinan akan terjadi. Itulah salah satu wujud dari kekuatiran. Kekuatiran membuat kita hidup dalam sesuatu yang sebenarnya belum terjadi. Hari ini sedang kita jalani, tetapi pikiran kita sudah berada di hari esok. Kita mulai bertanya, "Bagaimana kalau besok terjadi sesuatu?" "Bagaimana kalau rencana saya gagal?" "Bagaimana kalau kebutuhan saya tidak tercukupi?" "Bagaimana kalau hal buruk terjadi?" 

Dalam Matius 6:34 Yesus berkata: "Janganlah kuatir akan hari besok." Namun, apakah dengan mengatakan "jangan kuatir", Yesus sedang meminta kita untuk tidak memikirkan masa depan sama sekali? Tentu tidak. Kita tetap perlu bekerja, merencanakan sesuatu, mempersiapkan masa depan, memenuhi tanggung jawab, dan melakukan apa yang menjadi bagian kita. "Jangan kuatir" bukan berarti "jangan berbuat apa-apa". "Jangan kuatir" juga bukan berarti hidup seolah-olah semua persoalan pasti akan hilang dengan sendirinya. 

Yang Yesus ajarkan adalah agar kita tidak membiarkan kekuatiran menguasai kita. Ada perbedaan antara mempersiapkan hari esok dan mengkuatirkan hari esok. Persiapan menghasilkan tindakan, sedangkan kekuatiran sering kali membuat pikiran terus berputar pada berbagai kemungkinan buruk tanpa menghasilkan apa-apa. 

Kita dapat memikirkan masa depan tanpa harus dikuasai oleh ketakutan terhadap masa depan. Kita dapat membuat rencana tanpa merasa bahwa seluruh masa depan berada di tangan kita. Kita dapat bekerja dengan sungguh-sungguh tanpa berpikir bahwa segala sesuatu hanya akan berhasil apabila kita mampu mengendalikan semuanya. 

Karena itu, ketika Yesus berkata, "janganlah kamu kuatir akan hari besok", yang dimaksud bukanlah supaya kita berhenti berusaha. Yesus justru mengajarkan agar kita tetap melakukan bagian kita sambil mempercayakan apa yang tidak dapat kita kendalikan kepada Tuhan. 

Yesus tidak berkata bahwa hari besok tidak akan mempunyai masalah. Ia berkata, "karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri." Artinya, Yesus sangat realistis terhadap kehidupan. Menjadi orang percaya bukan berarti kita akan menjalani kehidupan tanpa persoalan. 

Hari besok mungkin memiliki masalahnya sendiri. Besok mungkin ada pekerjaan yang berat. Besok mungkin ada kabar yang tidak kita harapkan. Besok mungkin ada keputusan yang sulit. Besok mungkin ada kebutuhan yang harus dipenuhi. Kita tidak dapat mengetahui semuanya sekarang. 

Tetapi justru di situlah letak perkataan Yesus: jangan membawa kesusahan hari besok ke dalam kehidupan hari ini. Hari ini saja sudah mempunyai tanggung jawab dan pergumulannya sendiri. Jangan sampai kita membuat diri kita menderita hari ini karena sesuatu yang belum tentu terjadi besok. 

Sering kali kita memikul beban dua kali. Ketika masalah benar-benar datang, kita menghadapinya. Tetapi jauh sebelum masalah itu datang, kita sudah terlebih dahulu menderita karena membayangkannya. Kita belum sampai pada hari esok, tetapi kita sudah membawa seluruh kesusahan hari esok ke hari ini. 

Karena itu Yesus berkata, "Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari." Kalimat ini bukan berarti kita tidak boleh memikirkan masa depan. Ini adalah ajakan untuk memahami batas tanggung jawab kita. Ada hal-hal yang memang menjadi bagian kita hari ini, dan ada hal-hal yang belum menjadi bagian kita. 

Kalau hari ini kita harus bekerja, maka bekerjalah. Kalau hari ini kita harus menyelesaikan pekerjaan, maka selesaikanlah. Kalau hari ini kita harus mencari nafkah, maka berusahalah. Kalau hari ini ada masalah yang harus dihadapi, maka hadapilah. Tetapi jangan menambahkan kepada semua itu beban dari berbagai kemungkinan yang belum terjadi. 

Kita perlu belajar membedakan antara tanggung jawab dan kekuatiran. Tanggung jawab berkata, "Apa yang dapat saya lakukan hari ini?" Kekuatiran terus berkata, "Bagaimana kalau sesuatu yang buruk terjadi besok?" Tanggung jawab mendorong kita untuk bertindak, sedangkan kekuatiran dapat membuat kita terjebak dalam ketakutan. 

Karena itu, "jangan kuatir" bukanlah panggilan untuk menjadi malas. Bukan juga alasan untuk tidak merencanakan masa depan. Sebaliknya, kita dipanggil untuk menjalani hari ini dengan setia. Kita melakukan apa yang dapat kita lakukan, lalu menyerahkan hasil akhirnya kepada Tuhan. 

Iman bukan berarti kita mengetahui apa yang akan terjadi besok. Iman berarti kita percaya kepada Allah yang sudah mengetahui apa yang akan terjadi besok. Kita tidak mengetahui seperti apa hari esok, tetapi kita mengenal siapa yang memegang hari esok. 

Inilah yang membedakan orang yang percaya kepada Tuhan. Kita tetap bekerja, tetapi tidak diperbudak oleh ketakutan. Kita tetap merencanakan, tetapi tidak merasa bahwa semuanya harus berada dalam kendali kita. Kita tetap berusaha, tetapi tidak menggantungkan seluruh ketenangan hidup pada hasil yang kita inginkan. 

Mungkin hari ini kita sedang kuatir tentang sesuatu yang belum terjadi. Mungkin pikiran kita sudah jauh ke depan, membayangkan berbagai kemungkinan yang buruk. Firman Tuhan hari ini mengajak kita kembali kepada hari ini. 

Kerjakan bagian kita hari ini. Berdoalah hari ini. Bersyukurlah hari ini. Hadapi persoalan yang memang harus dihadapi hari ini. Jangan biarkan sesuatu yang belum terjadi mencuri damai sejahtera yang Tuhan berikan untuk hari ini. 

Hari besok memang mempunyai kesusahannya sendiri. Tetapi ketika hari besok tiba, Tuhan juga akan hadir di sana. Kita tidak perlu menghadapi hari esok hari ini. Ketika waktunya tiba, kita akan menghadapi hari itu bersama Tuhan. 

Karena itu, jangan kuatir. Bukan karena hari besok pasti mudah. Bukan karena hidup kita pasti bebas dari masalah. Tetapi karena kita percaya bahwa Tuhan tetap memegang kehidupan kita, baik hari ini maupun hari esok. 

Jangan habiskan hari ini untuk memikul kesusahan yang seharusnya menjadi bagian dari hari esok. Lakukan apa yang menjadi tanggung jawab kita hari ini, dan percayakan hari esok kepada Tuhan. Tuhan menyertai kita sekalian. Amin. 

Selamat menjalani kehidupan. 

Doa: 

Ya Tuhan, kami sering kali kuatir terhadap hari esok. Pikiran kami dipenuhi oleh berbagai kemungkinan dan ketakutan tentang apa yang belum terjadi. Ajarlah kami untuk tetap bertanggung jawab dalam menjalani kehidupan, tetapi tidak membiarkan kekuatiran menguasai hati kami. Mampukan kami melakukan bagian kami hari ini dan menyerahkan hari esok ke dalam tangan-Mu. Berikan kami iman untuk percaya bahwa ketika hari esok tiba, Engkau tetap menyertai kami. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin. 

Ditulis oleh Pdt. Timothy Saragi 


Catatan: 
Semua iklan yang terdapat pada website dan tulisan ini tidak ada hubungannya dengan timothysaragi.com. 

Dapatkan update artikel terbaru dari timothysaragi.com. Mari bergabung di Channel WhatsApp atau "timothysaragi.com Artikel Update", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/0029VapB7ASBVJlBihjSSW2q, kemudian join. Atau di Channel Telegram, caranya klik link https://t.me/timothysaragicomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel. 
Posting Komentar

Posting Komentar