Epistel Minggu 18 Oktober 2026 Minggu Kedua Puluh Setelah Trinitatis tertulis dalam Kitab 1 Samuel 3 ayat 10 - 14. Mari kita perdalam pemahaman kita terhadap Perikop Epistel ini. Sesuai dengan Almanak Gereja kita yang menjadi tema Epistel adalah "Dipanggil dan Dipilih Allah." Mari kita ikuti pembahasannya.
Pendahuluan
Samuel lahir seperti menjadi sebuah jawaban Tuhan atas doa ibunya, Hana, yang dengan berlinang air mata datang kepada Tuhan karena kerinduannya untuk memiliki seorang anak. Hana adalah seorang perempuan yang tidak mempunyai anak. Dalam kerinduannya yang mendalam, ia berdoa dengan tekun kepada Tuhan dan bernazar bahwa apabila Tuhan mengaruniakan seorang anak laki-laki kepadanya, anak itu akan diserahkan kepada Tuhan seumur hidupnya (lihat 1 Samuel 1:11). Tuhan mendengar doa Hana dan mengabulkan permohonannya.
Setelah Samuel lahir, Hana menepati janjinya dengan membawa Samuel ke rumah Tuhan di Silo dan menyerahkannya untuk melayani Tuhan, sebagaimana tertulis dalam 1 Samuel 1:28. Dengan sukacita dan kesungguhan hati, Hana mempersembahkan Samuel kepada Tuhan, menyadari bahwa anak yang diterimanya merupakan anugerah Tuhan yang harus dipersembahkan kembali bagi kemuliaan-Nya.
Samuel kemudian bertumbuh di bawah bimbingan imam Eli. Namun, Tuhan mempunyai rencana yang lebih besar bagi Samuel. Ia tidak hanya menjadi anak yang dipersembahkan kepada Tuhan, tetapi juga dipanggil dan dipilih untuk menjadi pelayan yang menyampaikan firman-Nya kepada bangsa Israel. Kisah Samuel mengingatkan kita bahwa panggilan Tuhan dapat hadir dalam perjalanan hidup seseorang sejak awal kehidupannya. Akan tetapi, dipanggil dan dipilih Allah bukan hanya tentang kedudukan atau kehormatan, melainkan juga tentang kesediaan untuk mendengarkan, menaati, dan melaksanakan kehendak-Nya.
Pembahasan
Tuhan memanggil Samuel. Dalam 1 Samuel 3:10, ketika Tuhan datang dan memanggil Samuel seperti sebelumnya, Samuel menjawab, “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengarkan.” Jawaban ini menunjukkan kesediaan hati Samuel untuk mendengarkan suara Tuhan dan menerima firman yang hendak disampaikan kepadanya. Samuel tidak menempatkan dirinya sebagai orang yang menentukan apa yang harus dikatakan Tuhan, melainkan sebagai seorang hamba yang bersedia mendengarkan tuannya. Di sinilah kita melihat sikap yang seharusnya dimiliki oleh setiap orang yang dipanggil dan dipilih Allah. Kita harus bersedia membuka hati untuk mendengarkan kehendak Tuhan, bukan hanya mencari firman yang sesuai dengan keinginan kita sendiri.
Namun, firman yang diterima Samuel bukanlah pesan yang mudah. Tuhan menyatakan bahwa Ia akan melakukan sesuatu di Israel yang akan membuat telinga setiap orang yang mendengarnya berdenging (ayat 11). Ungkapan ini menggambarkan betapa mengejutkan dan menggentarkan tindakan Tuhan yang akan terjadi. Pada masa itu, firman Tuhan jarang dinyatakan dan penglihatan-penglihatan tidak sering terjadi (lihat 1 Samuel 3:1). Di tengah keadaan tersebut, Tuhan memanggil Samuel untuk menerima dan menyampaikan firman-Nya. Hal ini memperlihatkan bahwa Tuhan tetap bekerja dan memanggil orang untuk melaksanakan kehendak-Nya.
Samuel dipanggil bukan hanya untuk mengalami kehadiran Tuhan, melainkan juga untuk menerima tanggung jawab sebagai penyampai firman-Nya. Demikian juga kita: Ketika Tuhan memanggil dan memilih kita untuk melayani-Nya, kita harus bersedia mendengarkan firman-Nya, sekalipun firman itu menegur, mengoreksi, dan menuntut perubahan dalam kehidupan kita.
Baca juga: Khotbah Minggu 18 Oktober 2026 - 2 Petrus 1 ayat 3-11
Karena beratnya hukuman itu, dosa Hofni dan Pinehas membawa akibat yang sangat serius bagi keluarga imam Eli. Hofni dan Pinehas adalah anak-anak Eli yang telah ditetapkan menjadi imam dan melayani di rumah Tuhan. Mereka mempunyai kedudukan yang terhormat dalam kehidupan keagamaan Israel, tetapi perbuatan mereka tidak mencerminkan panggilan yang telah mereka terima.
Para imam memang mempunyai bagian tertentu dari persembahan umat sesuai dengan ketetapan Tuhan, sebagaimana dijelaskan dalam Imamat 7:29–36. Namun, Hofni dan Pinehas menyalahgunakan kedudukan mereka dengan mengambil persembahan umat secara tidak benar dan mengutamakan kepentingan diri sendiri daripada menghormati Tuhan (lihat 1 Samuel 2:12–17). Mereka bahkan melakukan perbuatan tidak senonoh terhadap perempuan-perempuan yang melayani di Kemah Pertemuan (lihat 1 Samuel 2:22). Perbuatan tersebut menunjukkan bahwa mereka tidak menghormati kekudusan pelayanan yang dipercayakan kepada mereka. Mereka lebih mengikuti keinginan daging daripada menaati hukum dan titah Tuhan. Dalam umpama Batak Toba sifat yang demikian digambarkan melalui pepatah (umpama), dikatakan, “tinogu tu halang ulu, alai ditodo tu talaga.” Umpama ini dapat kita gunakan untuk menggambarkan ketidakselarasan antara kedudukan seseorang dan perilakunya.
Hofni dan Pinehas menempati kedudukan sebagai pelayan Tuhan, tetapi tindakan mereka bertentangan dengan kehendak Tuhan. Mereka seolah-olah lebih memilih untuk tidak mendengarkan suara panggilan dan perintah Tuhan daripada hidup dalam kebenaran. Akibatnya, penghukuman Tuhan menimpa keluarga Eli.
Dalam 1 Samuel 4:11, diceritakan bahwa Hofni dan Pinehas meninggal pada hari yang sama, sedangkan Eli juga meninggal setelah mendengar berita tentang kekalahan Israel dan kematian kedua anaknya (lihat 1 Samuel 4:18). Peristiwa ini menjadi peringatan bahwa kedudukan sebagai pelayan Tuhan tidak membuat seseorang kebal terhadap pertanggungjawaban di hadapan-Nya. Panggilan Tuhan harus diwujudkan melalui kehidupan yang sesuai dengan kehendak-Nya, bukan hanya melalui jabatan, status, atau kegiatan pelayanan.
Melalui Samuel, Tuhan menyampaikan firman-Nya mengenai penghukuman yang akan menimpa keluarga Eli. Dalam 1 Samuel 3:12, Tuhan menegaskan bahwa Ia akan melaksanakan segala sesuatu yang telah difirmankan-Nya terhadap keluarga Eli, dari awal sampai akhir. Ini menunjukkan bahwa firman Tuhan bukanlah ancaman kosong. Tuhan telah memberikan peringatan sebelumnya melalui seorang abdi Allah, sebagaimana tertulis dalam 1 Samuel 2:27–36. Peringatan itu berkaitan dengan dosa keluarga Eli dan penyalahgunaan pelayanan oleh kedua anaknya.
Dalam 1 Samuel 3:13, Tuhan menjelaskan alasan penghukuman tersebut: Eli telah mengetahui bahwa anak-anaknya menghujat Allah, tetapi ia tidak menegur atau mengekang mereka sebagaimana mestinya. Dengan demikian, Hofni dan Pinehas bertanggung jawab atas dosa mereka sendiri, sedangkan Eli juga harus mempertanggungjawabkan kelalaiannya sebagai ayah dan pemimpin rohani.
Eli adalah seorang imam yang seharusnya memahami hukum dan kebenaran Tuhan. Ia mempunyai tanggung jawab untuk mengajar, menasihati, dan membimbing umat agar hidup sesuai dengan kehendak Allah. Namun, tanggung jawab itu juga harus diwujudkan dalam keluarganya sendiri. Ia mengetahui perbuatan anak-anaknya, tetapi tidak mengambil tindakan yang semestinya untuk menghentikan kejahatan mereka.
Inilah peringatan yang sangat penting bagi setiap pemimpin. Seorang pemimpin tidak cukup hanya mampu menyampaikan khotbah, mengajarkan hukum Tuhan, atau menasihati orang lain. Ia juga harus berusaha menjalankan firman tersebut dalam kehidupan pribadinya dan keluarganya. Kebenaran yang disampaikan dari mimbar harus tercermin dalam kehidupan sehari-hari. Tentu saja, seorang orang tua tidak dapat mengendalikan setiap keputusan anaknya, tetapi ia tetap mempunyai tanggung jawab untuk mendidik, membimbing, menasihati, dan menegur dengan benar.
Selanjutnya, dalam 1 Samuel 3:14, Tuhan menegaskan bahwa kesalahan keluarga Eli tidak akan dihapuskan dengan korban sembelihan atau korban sajian. Pernyataan ini menekankan beratnya penghukuman yang telah dinyatakan terhadap keluarga Eli, bukan berarti bahwa Tuhan menolak seluruh korban persembahan atau bahwa tidak ada pengampunan bagi manusia. Melalui firman ini, kita diingatkan bahwa ibadah dan persembahan tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan ketaatan. Tuhan menghendaki kehidupan yang menghormati-Nya, bukan sekadar pelaksanaan kegiatan keagamaan. Karena itu, setiap orang yang menerima tanggung jawab pelayanan harus menyadari bahwa panggilan Tuhan menuntut kesetiaan, keteladanan, dan keberanian untuk menjalankan kebenaran.
Samuel tidur sampai terang hari. Setelah menerima firman Tuhan, Samuel bangun dan membuka pintu-pintu rumah Tuhan, tetapi ia takut memberitahukan penglihatan yang diterimanya kepada Eli (lihat 1 Samuel 3:15). Ketakutan itu dapat dimengerti karena pesan yang harus disampaikannya berisi penghukuman terhadap keluarga Eli, orang yang selama ini membimbing dan mengajarinya. Akan tetapi, Samuel tidak dipanggil untuk memilih-milih firman yang ingin disampaikannya. Tuhan telah memanggil dan memilihnya untuk menjadi penyampai firman-Nya.
Ketika Eli meminta Samuel menceritakan semua yang telah difirmankan Tuhan, Samuel akhirnya menyampaikan seluruh pesan itu tanpa menyembunyikan apa pun (lihat 1 Samuel 3:16–18). Dari peristiwa ini kita belajar bahwa kesediaan mendengarkan Tuhan harus diikuti keberanian untuk menaati dan menyampaikan firman-Nya.
Seorang pelayan Tuhan tidak boleh hanya menyampaikan pesan yang menyenangkan pendengar, tetapi juga harus bersedia menyampaikan teguran dan kebenaran dengan setia, bijaksana, serta penuh tanggung jawab. Keberanian tersebut bukan berarti menyampaikan firman dengan kasar atau menghakimi orang lain, melainkan kesediaan untuk tidak menyembunyikan kebenaran hanya karena takut menghadapi konsekuensinya.
Selanjutnya, 1 Samuel 3:19–21 menceritakan bahwa Samuel bertumbuh, Tuhan menyertainya, dan seluruh Israel mengetahui bahwa Samuel telah dipercayakan menjadi nabi Tuhan. Dengan demikian, panggilan Samuel tidak berhenti pada pengalaman ketika Tuhan memanggilnya pada malam hari. Panggilan itu berkembang menjadi pelayanan yang nyata di tengah bangsa Israel. Demikian juga kita yang dipanggil dan dipilih Allah. Kita tidak cukup hanya mengaku telah mendengar suara Tuhan, tetapi harus membuktikan kesediaan kita melalui ketaatan, keberanian, dan kesetiaan dalam menjalankan tugas yang dipercayakan kepada kita. Setiap orang mempunyai bentuk panggilan dan tanggung jawab yang berbeda, tetapi semuanya harus dijalankan dengan hati yang bersedia mendengarkan Tuhan dan hidup dalam kebenaran-Nya.
Kesimpulan dan Refleksi
Sebagaimana Samuel dipanggil dan dipilih Allah untuk mendengarkan serta menyampaikan firman-Nya, demikian juga kita dipanggil dan dipilih Allah untuk melayani-Nya di tengah dunia ini. Panggilan tersebut bukan sekadar kehormatan, melainkan tanggung jawab untuk mendengarkan, menaati, dan melaksanakan firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari. Kita belajar dari Samuel tentang kesediaan mendengarkan Tuhan dan keberanian menyampaikan firman-Nya, sekalipun firman itu berisi teguran.
Kita juga belajar dari Hofni dan Pinehas bahwa kedudukan sebagai pelayan Tuhan tidak boleh disalahgunakan untuk memenuhi keinginan diri sendiri. Sementara itu, kehidupan Eli mengingatkan kita bahwa setiap pemimpin mempunyai tanggung jawab untuk menegakkan kebenaran, membimbing keluarga, dan menjadi teladan bagi orang lain.
Karena itu, marilah kita memeriksa kehidupan kita masing-masing: apakah kita sungguh-sungguh mendengarkan firman Tuhan? Apakah firman yang kita sampaikan kepada orang lain sudah kita terapkan dalam kehidupan pribadi dan keluarga? Apakah kita berani melakukan yang benar sekalipun tidak mudah?
Tuhan yang berbicara kepada umat-Nya pada masa lampau juga berbicara kepada kita pada masa kini melalui Anak-Nya, Yesus Kristus, sebagaimana dinyatakan dalam Ibrani 1:1–2. Melalui Yesus Kristus, kita mengenal kehendak dan kasih Allah yang memanggil kita untuk hidup dalam kasih, kebenaran, dan ketaatan.
Oleh karena itu, janganlah kita hanya berbangga karena dipanggil dan dipilih Allah, tetapi marilah kita hidup sesuai dengan panggilan itu. Biarlah perkataan, tindakan, kehidupan keluarga, dan pelayanan kita menjadi kesaksian bahwa kita sungguh-sungguh mendengarkan suara Tuhan dan setia melaksanakan kehendak-Nya.
Kiranya Tuhan menolong kita untuk menjadi pelayan-pelayan yang setia, berani menyampaikan firman-Nya, dan hidup dalam kebenaran serta kasih-Nya sampai selama-lamanya. Amin.





Posting Komentar