Khotbah Minggu 29 November 2026 Minggu Advent 1 tertulis di Kitab Matius 24 ayat 37 - 44. Mari kita perdalam pemahaman kita terhadap Perikop Khotbah ini. Sesuai dengan Almanak Gereja kita yang menjadi tema Khotbah adalah "Berjaga-jaga Menyongsong Hari Tuhan." Mari kita ikuti pembahasannya.
Pendahuluan
Pada Minggu ini kita memasuki Minggu Advent I, di mana kita menyalakan satu lilin berwarna ungu yang melambangkan “harapan dan pertobatan”. Inilah sebuah tanda perilaku bahwa kita semakin diteguhkan untuk hidup dalam pengharapan, disertai pertobatan, dalam menyambut kedatangan Yesus yang adalah Tuhan menjadi manusia sebagai Juruselamat kita. Sekalipun khotbah dari Kitab Matius pasal 24 ini, yang pada judul di Alkitab (LAI) disebut “Khotbah Tentang Akhir Zaman”, merupakan khotbah Yesus sepanjang dua pasal (24–25), kita harus memahami juga bahwa Minggu Advent bukan hanya mempersiapkan diri untuk menyambut perayaan Natal, yaitu kelahiran Yesus, tetapi juga untuk menyambut Yesus dalam kedatangan-Nya pada akhir zaman. Seperti dikatakan pada ayat 3b: “Kata mereka: ‘Katakanlah kepada kami, bilamanakah itu akan terjadi dan apakah tanda kedatangan-Mu dan tanda kesudahan dunia?’”
Di sini ada dua permintaan murid, yaitu agar Yesus memberitahukan kepada mereka:
- Kapan keruntuhan Bait Allah di Yerusalem. Nubuatan Yesus itu kemudian terjadi pada tahun 70 Masehi, saat tentara Romawi yang dipimpin oleh Jenderal Titus menghancurkan Yerusalem. Ini adalah Bait Suci yang kedua, sebab yang pertama dibangun oleh Salomo telah dihancurkan oleh orang Babel pada tahun 586 SM dan Israel dibuang ke Babel. Jadi, Bait Allah di sini adalah Bait yang dibangun kemudian setelah keluar dari Babel atas izin Koresy, raja Persia, kemudian direnovasi dan diperluas oleh Herodes pada tahun 20–19 SM.
- Kapan terjadi dan apa tanda kedatangan-Nya pada akhir zaman (kesudahan dunia/ajal ni hasiangan on/end of the world). Untuk ini, saya membilah beberapa kata dari ayat 3 dalam bahasa asli (Yunani), yaitu: 1) Tanda kedatangan-Mu = sēmeion tēs parousias, penjelasan: sēmeion = tanda dari Tuhan; tēs = kata sandang “dari”; parousias = kedatangan. 2) Kesudahan dunia = sunteleias tou aiōnos, penjelasan: sunteleias = kesudahan; aiōnos = zaman/waktu abadi. Di ayat ini, Yesus menggunakan aiōnos untuk menerangkan masa kedatangan-Nya kedua kali itu sebagai suatu masa yang kekal. Ia tidak menggunakan kata yang lain, padahal dalam bahasa Yunani ada banyak kata untuk menerangkan waktu, misalnya: khrónos = waktu kronologis yang dapat diukur durasinya, misalnya sejarah; kairós = waktu yang dilihat dari makna dan kualitasnya, misalnya masa bahagia; hēméra = hari, siang hari, waktu dalam sehari; hṓra = jam, menit, waktu, musim; períodos = periode, siklus waktu. Jadi, kita sekarang yang hidup dalam waktu khronos sedang menantikan waktu aiōnos (waktu abadi).
Maka karena itu, khotbah ini juga mau menyampaikan tanda-tanda kedatangan Yesus menjelang akhir zaman, memasuki masa dan waktu yang abadi (aiōnos). Pertanyaan: Seberapa penting tanda itu? Ya, sangat penting! Mari kita ingat waktu Yesus lahir. Dalam Lukas 2:12 ditulis: “Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” Disebutkan bahwa malaikat memberitahukan kepada para gembala di padang Efrata sebuah tanda tentang Yesus yang lahir itu. Seorang bayi yang dibungkus dengan lampin dan terbaring (diletakkan) dalam palungan. Kata untuk menyebut “tanda” pada kelahiran Yesus dan kedatangan-Nya di akhir zaman adalah sama, yaitu kata sēmeion (= tanda). Sekiranya tanda itu tidak disebutkan oleh malaikat, mungkin para gembala akan keliru, karena bisa saja pada malam itu bukan hanya Yesus bayi yang lahir. Demikian juga pada kedatangan-Nya nanti, akan diawali dengan tanda-tanda.
Mendahului perikop ini, banyak tanda-tanda penting diberitahukan oleh Yesus, seperti: datangnya penyesat menggunakan nama Yesus dan mengaku sebagai Mesias, kabar dan deru perang, antarbangsa akan berlawanan, kelaparan, gempa bumi di berbagai tempat (marluatluat), tetapi semua itu masih tanda permulaan dan belum kesudahannya (:4–8). Munculnya nabi palsu, umat percaya akan dibenci, disiksa, ada yang murtad, kedukaan, tetapi orang yang bertahan sampai kesudahannya akan selamat (:13). Tentang semua itu dapat kita baca dari ayat 3–36. Dan bila peristiwa itu semua sudah terjadi, maka waktunya sudah dekat (:33). Kita harus bersiap dan berjaga karena waktu itu terjadi sangat singkat seperti cahaya kilat memancar dari Timur sampai ke Barat (:27), di mana jarak ribuan kilometer antara Timur ke Barat, tetapi cahaya kilat sampai hanya dalam hitungan persekian detik.
Jadi, soal kapan datangnya akhir zaman itu, kita tidak diberitahu waktunya, tahunnya, harinya, maupun jamnya sebagaimana ayat 36: “…tentang hari dan saat itu tidak seorang pun yang tahu, … hanya Bapa sendiri.” Kita hanya diajari untuk mengetahui tanda-tanda parousia atau kedatangan Yesus pada akhir zaman sebagaimana ayat 30. Maka sangat penting mengetahui tanda-tanda itu agar kita dapat berjaga-jaga, bersiap, dan tidak keliru menilai masa itu.
Pembahasan
Peristiwa Zaman Nuh Menjadi Peringatan (ayat 37–39)
Apa hubungan zaman Nuh dengan kedatangan Yesus? Peristiwa zaman Nuh dicatat dalam Kejadian 6–9. Ketika manusia mulai bertambah banyak di bumi, ternyata demikian juga kejahatannya bertambah besar dan hatinya cenderung membuahkan kejahatan semata. Maka menyesallah Tuhan bahwa Ia telah menjadikan manusia, dan hal itu memilukan hati-Nya. Karena itu, Tuhan hendak menghapuskan manusia maupun hewan, tetapi Nuh mendapat kasih karunia di mata Tuhan, sebab Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; sebab Nuh hidup bergaul dengan Allah. Karena itu, Tuhan meminta Nuh untuk membuat perahu besar, karena Tuhan akan mendatangkan air bah untuk melenyapkan semua manusia kecuali Nuh dan keluarganya. Air bah datang menutupi semua gunung dan bumi, sehingga tidak ada manusia dan hewan yang dapat menyelamatkan dirinya sendiri. Semua binasa oleh air bah, sebab mereka tidak tahu akan sesuatu sebelum air bah itu datang dan melenyapkan mereka semua, tetapi Nuh dan keluarganya: Nuh, isterinya, tiga orang anaknya dan tiga orang menantunya; semuanya delapan orang diberkati dan Tuhan mengadakan perjanjian kekal kepada Nuh (Kej. 9). Demikian perikop khotbah kita berkata pada ayat 37 dan 39: “Sebab sebagaimana halnya pada zaman Nuh, demikian pulalah halnya kelak pada kedatangan Anak Manusia.”
Peristiwa pada zaman Nuh ini, ceritanya diulangi oleh Yesus kepada para murid-Nya, dan hari ini bagi kita harus menjadi tanda bahwa Tuhan akan menyelamatkan setiap orang yang hidupnya benar dan tidak bercela. Orang yang hidup bergaul dengan Tuhan akan beroleh kasih karunia (Kejadian 6:8–9).
Berjaga-jaga dan Siap Sedia Senantiasa (ayat 40–43)
Ini suatu peringatan ketat kepada umat percaya agar siap siaga dalam segala hal tanpa mengulur waktu. Tidak boleh berlengah sekalipun saat bekerja. Pun hidup kita bukan hanya untuk bekerja bagi kesejahteraan kita, tetapi juga untuk hidup beribadah. Peringatan ini juga mengingatkan bahwa tidak ada waktu menunggu sekalipun bagi seorang sahabat dan teman, anggota keluarga. Mari kita perhatikan beberapa peringatan ini: ayat 40–41, 43. Peristiwa dua orang di ladang, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Dua orang perempuan sedang memutar batu kilangan, yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan. Di sini tidak sempat meraih tangannya. Seperti pencuri yang datang pada malam hari. Karena itu, Yesus memperingatkan dan berkata agar semua umat percaya senantiasa berjaga-jagalah dan siap sedia secara kerohanian, moral, dan iman.
Hari dan Saat yang Tak Diduga (ayat 44)
Pernahkah kita melihat tanda hanya berupa tulisan, misalnya larangan atau anjuran? Demikian bagi kita, tanda yang diberikan Tuhan bukan hanya tanda peristiwa, tetapi juga firman-Nya bahwa Dia akan datang. Sekiranya ada papan berisi Matius 24:44: “Sebab itu, hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu duga.” Atau Lukas 12:40 dikatakan: “Hendaklah kamu juga siap sedia, karena Anak Manusia datang pada saat yang tidak kamu sangkakan.”
Ayat ini menjelaskan bahwa masa itu sangat tiba-tiba dan tidak dapat diprediksi seperti menunggu jadwal penerbangan atau kereta. Selanjutnya, kita dapat memperhatikan perumpamaan Yesus pada ayat 45–51 tentang hamba (pekerja) yang setia dan jahat. Hamba yang setia melakukan tugasnya dengan baik sekalipun tuannya belum datang, sedangkan yang jahat berbuat jahat, membunuh, makan, minum, dan mabuk-mabukan. Lalu tiba-tiba tuannya datang; maka yang baik berbahagia, sedangkan yang jahat akan dihukum senasib dengan orang munafik dan akan mengalami ratapan dan kertak gigi.
Tanda apakah yang diberikan Tuhan tentang ini? Kita hanya tahu dan mengimani bahwa Tuhan pasti akan datang. Jadi, sikap dari kita adalah sikap sukacita dalam menanti, bukan sikap dalam ketertekanan jiwa. Kita menunggu dengan siap sedia, sebab Dia akan datang dengan kasih karunia, yaitu keselamatan.
Kesimpulan dan Refleksi
Pada Buku Ende No. 539:1–4 menceritakan:
- bagaimana kita senantiasa menantikan dan merindukan datang-Nya Tuhan,
- sukacita yang besar memenuhi hati,
- telah siap sedia menyambut Yesus,
- jangan sampai terlambat ketika Yesus datang.
Empat ayat ini sangat tepat menggambarkan bagaimana kita berjaga-jaga menyongsong hari Tuhan sebagaimana pada tema kita. Jangan ada tekanan jiwa seolah-olah terhakimi dan berbeban dalam menantikan Tuhan. Sebagai warga gereja, setialah beriman, lakukanlah tugas dan pekerjaanmu sebagaimana firman dan kehendak Tuhan, bersukacitalah menanti kedatangan-Nya dan berkata: Maranatha, ya Tuhan, amin, datanglah segera, sebab hari Tuhan bagi kita adalah hari keselamatan. Amin.





Posting Komentar