Pernahkah kita bertanya, apakah Tuhan benar-benar membutuhkan persembahan kita? Bukankah segala sesuatu yang kita miliki berasal dari-Nya? Dalam 1 Tawarikh 29:14, Daud mengingatkan bahwa kita dapat memberi karena terlebih dahulu telah menerima dari Tuhan. Persembahan bukanlah cara untuk membuat Allah berutang kepada kita, melainkan ungkapan syukur atas segala berkat yang telah dipercayakan-Nya kepada kita.
Bacaan
"Sebab siapakah aku ini dan siapakah bangsaku, sehingga kami mampu memberikan persembahan sukarela seperti ini? Sebab dari pada-Mulah segala-galanya dan dari tangan-Mu sendirilah persembahan yang kami berikan kepada-Mu."
- 1 Tawarikh 29:14
Pendahuluan
Pernahkah kita memikirkan pertanyaan ini: Tuhan butuh persembahan? Ketika gereja mengadakan pengumpulan persembahan untuk pembangunan gedung, mendukung pelayanan, atau membiayai berbagai kegiatan, kita sering mendengar ajakan untuk memberi. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya, mengapa kita memberikan persembahan kepada Tuhan? Apakah karena Tuhan kekurangan sesuatu sehingga membutuhkan uang kita? Apakah karena kita berharap memperoleh berkat yang lebih besar setelah memberi? Ataukah karena kita sungguh-sungguh menyadari bahwa segala sesuatu yang kita miliki berasal dari Tuhan? Pertanyaan ini penting karena persembahan bukan sekadar persoalan uang atau jumlah yang dimasukkan ke dalam kantong persembahan. Persembahan berkaitan dengan iman, rasa syukur, kerendahan hati, dan cara kita memandang berkat yang telah kita terima. Dalam kehidupan gereja, ada orang yang memberikan persembahan dengan tulus dan sukarela. Namun, ada pula pemberian yang disertai keinginan untuk dikenal, dipuji, atau memperoleh pengaruh. Sebaliknya, kita juga perlu memeriksa diri ketika begitu mudah menggunakan penghasilan untuk berbagai kesenangan pribadi, tetapi kurang memikirkan bagaimana menyatakan rasa syukur kepada Tuhan melalui apa yang telah dipercayakan-Nya. Melalui 1 Tawarikh 29:14, kita diajak kembali kepada dasar yang benar: segala sesuatu berasal dari Tuhan. Karena itu, marilah kita belajar memahami persembahan bukan sebagai cara untuk memenuhi kebutuhan Allah, melainkan sebagai ungkapan syukur dan tanggung jawab kita atas berkat-Nya.Pembahasan
Segala Sesuatu Berasal dari Tuhan
Dalam 1 Tawarikh 29, Daud mempersiapkan pembangunan Bait Allah. Ia sendiri telah memberikan persembahan dalam jumlah besar, kemudian para pemimpin dan umat Israel juga memberikan persembahan secara sukarela. Mereka menyediakan berbagai bahan dan harta untuk mendukung pekerjaan yang akan dilaksanakan bagi Tuhan. Sesudah umat memberikan persembahan, Daud menaikkan doa pujian kepada Tuhan. Hal yang menarik adalah bahwa Daud tidak menjadikan kesempatan itu sebagai alasan untuk membanggakan dirinya sendiri atau memuji-muji kemurahan hati manusia. Sebaliknya, ia mengarahkan perhatian kepada Allah dan mengakui bahwa segala sesuatu berasal dari-Nya. Daud berkata, “Sebab dari pada-Mulah segala-galanya dan dari tangan-Mu sendirilah persembahan yang kami berikan kepada-Mu.” Pengakuan ini menunjukkan bahwa Daud memahami kedudukannya di hadapan Tuhan. Ia dan umat Israel dapat memberi karena mereka terlebih dahulu telah menerima. Harta yang mereka persembahkan bukanlah sesuatu yang muncul dari kemampuan mereka sendiri tanpa campur tangan Allah. Kehidupan, kekuatan, kesempatan bekerja, dan segala sumber daya yang mereka miliki berada dalam pemeliharaan Tuhan. Demikian juga dengan kehidupan kita sekarang. Penghasilan yang kita terima, pekerjaan yang kita jalani, kesehatan yang memungkinkan kita beraktivitas, pengetahuan, keterampilan, waktu, dan kesempatan untuk melayani bukanlah sesuatu yang patut membuat kita merasa menjadi pemilik mutlak atas segala-galanya. Kita memang harus bekerja dengan tekun dan bertanggung jawab, tetapi kita juga perlu menyadari bahwa kehidupan dan kesempatan itu sendiri merupakan anugerah Tuhan. Ketika kesadaran ini tumbuh dalam hati, kita tidak lagi memandang persembahan sebagai kehilangan semata. Kita belajar melihatnya sebagai kesempatan untuk menyatakan syukur kepada Dia yang telah lebih dahulu memberkati kita.Persembahan Bukan untuk Membeli Pengaruh atau Pengakuan
Persembahan seharusnya lahir dari hati yang bersyukur. Namun, dalam kehidupan manusia, pemberian kadang-kadang dapat bercampur dengan keinginan untuk mendapatkan sesuatu sebagai balasannya. Ada orang yang memberi supaya namanya dikenal. Ada yang ingin dipuji sebagai orang yang murah hati. Ada pula yang berharap bahwa karena dirinya merupakan donatur besar, pendapatnya harus selalu didahulukan dalam keputusan gereja. Kita perlu memahami bahwa pemberian yang besar tidak dengan sendirinya menjadikan seseorang lebih berhak menguasai pelayanan atau menentukan keputusan gereja sesuai kepentingan pribadinya. Persembahan untuk pembangunan gedung atau pelayanan gereja tidak seharusnya menjadi alat untuk membeli kedudukan, mengendalikan pemimpin, atau menuntut perlakuan istimewa. Gereja memang perlu menghargai setiap orang yang memberi. Persembahan yang besar maupun kecil patut diterima dan dikelola dengan tanggung jawab. Namun, penghargaan kepada pemberi tidak berarti gereja harus tunduk pada kehendak pribadi seorang donatur. Keputusan pelayanan perlu diambil dengan berpegang pada firman Tuhan, tanggung jawab bersama, tata gereja, dan kepentingan jemaat, bukan berdasarkan besarnya sumbangan seseorang. Yesus sendiri mengingatkan murid-murid-Nya agar tidak melakukan tindakan keagamaan demi dilihat dan dipuji orang lain. Prinsip itu juga relevan dalam hal memberi. Jika tujuan utama kita adalah mendapatkan pujian, maka perhatian kita telah bergeser dari Tuhan kepada manusia. Karena itu, kita perlu memeriksa motivasi hati. Apakah kita memberi karena mengasihi Tuhan dan mendukung pekerjaan-Nya, atau karena ingin memperoleh nama, pengaruh, dan pengakuan? Persembahan yang berkenan kepada Tuhan tidak menjadikan manusia sebagai pusat perhatian, melainkan memuliakan Dia yang menjadi sumber segala berkat.Memberi dengan Sukarela, Bukan karena Paksaan
Dalam kisah 1 Tawarikh 29, persembahan umat diberikan dengan sukarela. Daud bersyukur karena para pemimpin dan rakyat bersedia memberikan apa yang mereka miliki untuk pembangunan Bait Allah. Pemberian itu bukan sekadar pengumpulan bahan bangunan, tetapi juga memperlihatkan hati yang tergerak untuk mendukung pekerjaan Tuhan. Prinsip memberi dengan sukarela juga terlihat dalam 2 Korintus 9:7. Rasul Paulus mengingatkan agar setiap orang memberi menurut kerelaan hatinya, bukan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Firman Tuhan tidak mengajarkan agar persembahan diberikan untuk memenuhi tuntutan manusia atau karena seseorang takut dianggap kurang beriman. Pemberian seharusnya merupakan keputusan yang lahir dari iman, rasa syukur, dan kerelaan hati. Karena itu, kita tidak boleh mengukur iman seseorang hanya dari nominal persembahannya. Ada orang yang memiliki penghasilan terbatas, tetapi dengan tulus memberikan sebagian dari apa yang dipercayakan kepadanya. Ada pula orang yang memiliki kemampuan lebih besar dan dapat memberikan lebih banyak. Keadaan setiap orang berbeda, sehingga kita tidak sepatutnya menghakimi hati seseorang hanya berdasarkan jumlah yang terlihat. Namun, kebebasan dalam memberi juga bukan alasan untuk tidak pernah memeriksa diri. Kita perlu bertanya dengan jujur apakah pemberian kita sungguh-sungguh mencerminkan rasa syukur dan tanggung jawab. Jangan sampai kita selalu mencari alasan untuk mengutamakan keinginan pribadi, sementara pelayanan dan kebutuhan sesama tidak pernah mendapat tempat dalam pertimbangan kita. Yang Tuhan kehendaki bukan pemberian yang dipaksakan, melainkan hati yang dibentuk oleh kasih-Nya, sehingga kita mampu memberi dengan sukacita dan bijaksana.Persembahan Mengungkapkan Prioritas Hati
Kita hidup dalam dunia yang menawarkan begitu banyak hal untuk dibeli. Ada kebutuhan keluarga, pendidikan, tempat tinggal, kesehatan, transportasi, dan berbagai tanggung jawab lain yang memang perlu diperhatikan. Di samping itu, ada pula keinginan untuk menikmati hiburan, membeli barang baru, mengikuti tren, dan memenuhi berbagai kesenangan pribadi. Menikmati hasil kerja bukanlah sesuatu yang otomatis salah. Kita juga perlu menggunakan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan diri dan keluarga secara bertanggung jawab. Menolong keluarga dan orang yang membutuhkan pun merupakan bentuk tanggung jawab kasih yang penting. Namun, persoalannya muncul ketika seluruh penghasilan dan perhatian kita terus-menerus diarahkan kepada keinginan pribadi, sementara rasa syukur kepada Tuhan hanya menjadi sesuatu yang kita ingat sesekali. Kita mudah mengeluarkan uang untuk hal yang kita inginkan, tetapi tidak pernah sungguh-sungguh mempertimbangkan bagaimana berkat yang kita terima dapat digunakan untuk mendukung pelayanan dan menolong sesama. Persembahan mengajak kita memeriksa kembali prioritas hati. Apakah Tuhan sungguh memiliki tempat dalam cara kita mengatur kehidupan dan keuangan? Apakah kita menyadari bahwa harta bukan hanya untuk dinikmati sendiri, tetapi juga dapat digunakan untuk pekerjaan Tuhan dan kebaikan orang lain? Kita tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain atau menetapkan nominal yang sama bagi semua orang. Yang perlu dilakukan adalah mengevaluasi diri dengan jujur. Jika Tuhan telah mempercayakan lebih banyak kepada kita, sudahkah kita memikirkan tanggung jawab yang menyertai berkat itu? Orang yang bersyukur tidak harus selalu memberikan jumlah yang besar. Namun, rasa syukur yang sungguh-sungguh seharusnya mempunyai pengaruh nyata terhadap cara kita menggunakan apa yang telah kita terima.Persembahan Adalah Bagian dari Penyembahan
Dalam 1 Tawarikh 29, persembahan untuk pembangunan Bait Allah disertai dengan pujian kepada Tuhan. Daud tidak berhenti pada pengumpulan harta, tetapi mengarahkan umat untuk memuliakan Allah. Mereka bersukacita karena dapat mengambil bagian dalam pekerjaan yang dipersiapkan bagi Tuhan. Hal ini mengingatkan kita bahwa persembahan bukan sekadar transaksi keuangan atau kewajiban administratif gereja. Persembahan merupakan salah satu ungkapan penyembahan dan syukur kepada Allah. Ketika memberikan persembahan, kita sedang mengakui bahwa Tuhan adalah sumber segala sesuatu. Kita juga menyatakan kesediaan untuk mengambil bagian dalam pelayanan, mendukung pemberitaan firman, memperhatikan kebutuhan jemaat, dan membantu orang-orang yang memerlukan pertolongan. Karena itu, persembahan perlu diberikan dengan hati yang benar. Kita tidak memberi untuk membeli berkat, sebab berkat Allah bukan barang dagangan. Kita juga tidak memberi supaya Tuhan berutang kepada kita atau supaya manusia memandang kita sebagai orang yang paling rohani. Sebaliknya, kita memberi karena telah menerima kemurahan Tuhan. Kita memberi dengan rasa syukur, kerelaan, dan tanggung jawab. Kita juga perlu memastikan bahwa persembahan yang dipercayakan kepada gereja dikelola secara jujur, transparan, dan sesuai dengan tujuan pelayanan. Pengelolaan yang bertanggung jawab merupakan bagian penting dari penghormatan terhadap pemberian jemaat.Hidup Ini Sementara, Gunakan Berkat dengan Bijaksana
Dalam 1 Tawarikh 29:15, Daud melanjutkan doanya dengan mengingatkan bahwa manusia adalah orang asing dan pendatang di hadapan Tuhan. Hari-hari manusia di bumi seperti bayangan dan tidak berlangsung selamanya. Kesadaran tentang singkatnya kehidupan menolong kita memahami bahwa harta bukanlah sesuatu yang dapat kita bawa untuk selamanya. Apa yang kita miliki sekarang pada akhirnya akan kita tinggalkan. Karena itu, pertanyaannya bukan hanya berapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, melainkan bagaimana kita menggunakan apa yang dipercayakan kepada kita selama hidup. Kita tentu perlu bekerja, menabung, mempersiapkan masa depan, dan memenuhi kebutuhan keluarga. Semua itu dapat menjadi bagian dari pengelolaan yang bijaksana. Namun, kita juga perlu menyediakan ruang bagi pelayanan, kemurahan hati, dan kepedulian terhadap sesama. Bayangkan seseorang yang menerima kenaikan gaji. Ia dapat bersyukur dengan mengelola penghasilan itu secara bertanggung jawab: memenuhi kebutuhan keluarga, mempersiapkan masa depan, menolong orang yang membutuhkan, serta mendukung pelayanan sesuai kemampuan dan kerelaan hatinya. Sikap demikian menunjukkan bahwa ia tidak hanya menikmati berkat bagi dirinya sendiri, tetapi juga memikirkan bagaimana berkat itu dapat menjadi saluran kebaikan bagi orang lain. Pada akhirnya, yang terpenting bukanlah berapa banyak harta yang berhasil kita kumpulkan, melainkan apakah kita menggunakannya dengan bijaksana dan setia kepada Tuhan. Hidup yang singkat ini adalah kesempatan untuk menyatakan syukur melalui cara kita bekerja, memberi, melayani, dan mengasihi sesama.Kesimpulan dan Refleksi
Jadi, apakah Tuhan membutuhkan persembahan kita? Allah tidak kekurangan apa pun. Dialah pemilik segala sesuatu. Seperti yang diakui Daud dalam 1 Tawarikh 29:14, kita dapat memberikan persembahan karena segala sesuatu yang kita miliki berasal dari tangan Tuhan. Karena itu, persembahan bukanlah cara untuk membeli berkat, mencari pujian, memperoleh kedudukan, atau mengendalikan keputusan gereja. Persembahan merupakan ungkapan syukur, penyembahan, dan tanggung jawab atas apa yang telah dipercayakan Allah kepada kita. Kita juga tidak seharusnya mengukur iman seseorang hanya berdasarkan nominal pemberiannya. Namun, kita perlu berani memeriksa hati sendiri. Jangan sampai kita begitu bersemangat menggunakan berkat untuk memenuhi keinginan pribadi, tetapi kurang memikirkan bagaimana menyatakan syukur kepada Tuhan dan memperhatikan kebutuhan sesama. Marilah kita memberi dengan sukarela, sesuai kemampuan, tanpa paksaan dan tanpa mencari pujian. Marilah kita juga belajar mengelola harta, waktu, tenaga, dan talenta dengan bijaksana, agar semuanya dapat digunakan untuk memuliakan Tuhan dan membawa kebaikan bagi sesama. Kita memberi bukan karena Tuhan kekurangan, melainkan karena kita telah menerima begitu banyak dari-Nya; biarlah persembahan dan seluruh kehidupan kita menjadi ungkapan syukur kepada Tuhan, sumber segala berkat. Tuhan menyertai kita sekalian. Amin.Selamat menjalani kehidupan.
Doa
Ya Tuhan Allah, Bapa kami yang penuh kasih, kami bersyukur karena Engkaulah sumber segala sesuatu yang kami miliki. Engkau memberikan kehidupan, kesehatan, kekuatan, pekerjaan, kesempatan, dan berbagai berkat yang sering kali kami nikmati tanpa sungguh-sungguh menyadarinya. Ampunilah kami ketika kami menjadi sombong atas apa yang kami miliki, mencari pujian melalui pemberian kami, atau menggunakan harta hanya untuk memenuhi keinginan pribadi. Bentuklah hati kami agar mampu memberi dengan sukarela, penuh syukur, dan tanpa mengharapkan pengakuan manusia. Ajarlah kami mengelola berkat dengan bijaksana, memperhatikan kebutuhan keluarga, mendukung pelayanan, dan menolong sesama. Jauhkanlah gereja-Mu dari sikap yang menjadikan persembahan sebagai alat untuk membeli pengaruh atau menguasai keputusan. Tolonglah para pelayan dan seluruh jemaat agar mengelola setiap pemberian dengan jujur dan bertanggung jawab. Biarlah seluruh hidup kami, bukan hanya uang dan harta kami, menjadi persembahan yang memuliakan nama-Mu. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.
Ditulis oleh Pdt. Timothy Saragi




Posting Komentar