Pernahkah kita mendengar firman Tuhan, tetapi tidak sungguh-sungguh membiarkannya mengubah kehidupan kita? Kita dapat membaca Alkitab, mendengarkan khotbah, dan mengetahui apa yang benar, tetapi tetap sulit menerima teguran ketika firman itu menyingkapkan kesalahan kita. Kisah Raja Yosia dalam 2 Tawarikh 34:27 mengingatkan kita bahwa hati yang benar di hadapan Tuhan adalah hati yang bersedia direndahkan dan diubahkan oleh firman-Nya.
Bacaan
Oleh karena engkau sudah menyesal dan engkau merendahkan diri di hadapan Allah pada waktu engkau mendengar firman-Nya terhadap tempat ini dan terhadap penduduknya, oleh karena engkau merendahkan diri di hadapan-Ku, mengoyakkan pakaianmu dan menangis di hadapan-Ku, Akupun telah mendengarnya, demikianlah firman TUHAN.
- 2 Tawarikh 34:27
Pendahuluan
Mengoyakkan pakaian merupakan kebiasaan dalam dunia Alkitab yang menandakan dukacita, keterkejutan, atau kesedihan yang mendalam. Ketika seseorang mendengar berita yang sangat menyedihkan atau menyadari kesalahan yang serius, tindakan itu dapat menjadi ungkapan perasaan hatinya. Namun, tindakan lahiriah saja tidak otomatis membuktikan pertobatan yang sejati. Yang terpenting adalah sikap hati dan perubahan hidup yang mengikutinya.
Hal ini terlihat dalam kehidupan Raja Yosia. Ketika kitab Taurat ditemukan pada masa perbaikan Bait Allah dan dibacakan di hadapannya, Yosia menyadari betapa jauh kehidupan bangsanya telah menyimpang dari firman Tuhan. Ia mengoyakkan pakaiannya dan mencari petunjuk Tuhan. Melalui nabiah (nabi perempuan) Hulda, Tuhan menyampaikan bahwa Dia telah mendengar kerendahan hati Yosia.
Firman ini mengajak kita memeriksa diri. Ketika firman Tuhan menegur kita, apakah kita bersedia mengakui kesalahan dan berubah? Ataukah kita justru membela diri, mencari alasan, dan menolak untuk dikoreksi? Dari pengalaman Yosia, kita belajar bahwa hati yang lembut di hadapan Tuhan merupakan awal penting dari pembaruan rohani.
Pembahasan
Firman Allah Harus Menyentuh Hati
Yosia tidak memperlakukan kitab Taurat sebagai dokumen lama yang tidak lagi relevan. Ketika firman itu dibacakan, ia menyadari bahwa perkataan Tuhan memiliki otoritas atas kehidupannya maupun bangsanya. Ia tidak menganggap dirinya terlalu tinggi untuk menerima teguran, meskipun ia adalah seorang raja.
Kita pun dapat membaca Alkitab setiap hari, mengikuti ibadah, dan mendengarkan khotbah secara teratur. Namun, pertanyaan pentingnya bukan hanya apakah kita sudah mendengar firman Tuhan, melainkan apakah kita bersedia membiarkan firman itu mengoreksi pikiran, sikap, perkataan, dan tindakan kita.
Hati yang lembut bukanlah hati yang tidak pernah melakukan kesalahan. Hati yang lembut adalah hati yang bersedia mengakui kesalahan ketika kebenaran Tuhan menyingkapkannya. Orang yang memiliki hati seperti ini tidak selalu merasa nyaman ketika ditegur, tetapi ia tidak menutup diri terhadap pekerjaan Tuhan yang membarui kehidupannya.
Kerendahan Hati Membuat Kita Bersedia Dikoreksi
Firman Tuhan menyebutkan bahwa Yosia merendahkan diri di hadapan Allah. Meskipun memiliki kedudukan sebagai raja, ia tidak menempatkan kekuasaan atau kehormatannya di atas firman Tuhan. Ia menyadari bahwa dirinya dan bangsanya harus tunduk kepada kehendak Allah.
Kerendahan hati bukan berarti kita harus menganggap diri tidak berharga. Kerendahan hati berarti mengakui bahwa Tuhan adalah Allah dan kita membutuhkan tuntunan-Nya. Kita tidak selalu benar, tidak selalu memahami segala sesuatu, dan tidak boleh menjadikan kedudukan atau pengalaman sebagai alasan untuk menolak teguran.
Dalam kehidupan keluarga, gereja, dan masyarakat, sikap ini sangat penting. Ada kalanya kita lebih mudah menunjukkan kesalahan orang lain daripada mengakui kesalahan sendiri. Kita ingin didengar, tetapi sulit mendengarkan. Kita ingin dihormati, tetapi tidak bersedia dikoreksi. Teladan Yosia mengajak kita untuk lebih dahulu merendahkan diri di hadapan Tuhan.
Mengoyakkan Pakaian Harus Diikuti Pertobatan
Mengoyakkan pakaian dan menangis menunjukkan betapa dalamnya respons Yosia ketika mendengar firman Tuhan. Namun, pertobatannya tidak berhenti pada ungkapan kesedihan. Ia mengutus orang untuk mencari petunjuk Tuhan, kemudian memimpin umat dalam pembaruan perjanjian dan penyingkiran praktik penyembahan berhala.
Di sinilah kita melihat bahwa pertobatan bukan sekadar perasaan bersalah. Seseorang dapat menangis karena menyesali akibat perbuatannya, tetapi belum tentu bersedia meninggalkan perbuatan yang salah. Pertobatan yang sejati membawa kita kepada pengakuan, perubahan arah, dan tindakan yang sesuai dengan firman Tuhan.
Jika kita menyadari bahwa perkataan kita telah melukai orang lain, pertobatan mendorong kita untuk meminta maaf dan belajar mengendalikan perkataan. Jika kita menyadari bahwa kita telah berlaku tidak jujur, kita dipanggil untuk berhenti dan memperbaiki tindakan kita. Dengan demikian, penyesalan menjadi awal perubahan, bukan sekadar emosi yang berlalu.
Allah Mendengar Hati yang Merendahkan Diri
Melalui Hulda, Tuhan menyampaikan kepada Yosia, "Akupun telah mendengarnya." Pernyataan ini memberikan penghiburan bahwa Allah memperhatikan respons Yosia terhadap firman-Nya. Tuhan melihat kerendahan hatinya, penyesalannya, dan kesungguhannya dalam mencari kehendak Allah.
Kita tidak dapat mempermainkan Allah dengan menunjukkan kesedihan di luar sementara hati tetap menolak perubahan. Allah mengetahui isi hati manusia. Namun, kisah Yosia juga menegaskan bahwa kita tidak perlu datang kepada Tuhan dengan berpura-pura sempurna. Kita dapat datang dengan jujur, mengakui dosa, dan memohon pertolongan-Nya untuk hidup dalam kebenaran.
Kerendahan hati bukan cara untuk memaksa Allah memenuhi keinginan kita. Kerendahan hati adalah sikap berserah kepada-Nya, mengakui kebenaran firman-Nya, dan menerima bahwa kita membutuhkan kasih karunia serta tuntunan-Nya.
Belas Kasihan Allah Tidak Menghapus Kekudusan-Nya
Dalam kisah Yosia, Tuhan menyatakan bahwa malapetaka atas Yehuda dan Yerusalem tetap akan datang karena ketidaksetiaan bangsa itu. Namun, karena Yosia merendahkan diri, Tuhan menyatakan bahwa ia tidak akan melihat malapetaka tersebut. Dengan demikian, kisah ini memperlihatkan belas kasihan Allah sekaligus keseriusan akibat dosa yang telah berlangsung lama.
Hal ini mengingatkan kita bahwa Allah adalah Allah yang penuh kasih, tetapi juga kudus dan adil. Pengampunan tidak boleh dijadikan alasan untuk meremehkan dosa atau terus melakukan kejahatan. Kasih karunia Tuhan justru memanggil kita untuk meninggalkan jalan yang salah dan hidup sesuai kehendak-Nya.
Kita juga perlu berhati-hati agar tidak menggunakan kisah ini untuk menyimpulkan bahwa setiap penderitaan seseorang pasti merupakan hukuman langsung atas dosa tertentu. Pesan utama bagian ini adalah respons Yosia terhadap firman Tuhan dan keseriusan Allah terhadap ketidaksetiaan umat-Nya.
Kerendahan Hati Dapat Membawa Pembaruan
Yosia tidak hanya memikirkan kehidupan rohaninya sendiri. Responsnya terhadap firman Tuhan mendorongnya mengambil tindakan bagi bangsanya. Ia mengumpulkan umat, membacakan firman, memperbarui perjanjian dengan Tuhan, dan melakukan pembaruan dalam kehidupan keagamaan bangsa itu.
Teladan ini penting bagi setiap orang yang memiliki tanggung jawab, baik sebagai pemimpin gereja, orang tua, guru, maupun anggota masyarakat. Pembaruan tidak dimulai dari keinginan untuk mengubah orang lain sambil mengabaikan diri sendiri. Pembaruan dimulai ketika kita bersedia diperiksa dan dibarui oleh firman Tuhan.
Kita tidak dapat memaksa semua orang berubah, tetapi kita dapat memulai dari kehidupan sendiri. Sikap rendah hati, kesediaan mengakui kesalahan, dan tindakan yang sesuai dengan firman Tuhan dapat menjadi kesaksian yang memengaruhi keluarga, gereja, dan lingkungan kita.
Kesimpulan dan Refleksi
Kisah Raja Yosia dalam 2 Tawarikh 34:27 mengajarkan bahwa Tuhan memperhatikan hati yang lembut dan rendah hati ketika mendengar firman-Nya. Mengoyakkan pakaian dan menangis merupakan ungkapan kesedihan Yosia, tetapi responsnya tidak berhenti pada perasaan. Ia mencari petunjuk Tuhan dan mengambil langkah nyata untuk membawa umat kembali kepada-Nya.
Mari kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah ada firman Tuhan yang selama ini kita dengar tetapi belum kita lakukan? Ketika ditegur, apakah kita bersedia mengakui kesalahan atau justru sibuk membela diri? Apakah penyesalan kita menghasilkan perubahan nyata dalam hubungan dengan keluarga, sesama, dan Tuhan?
Janganlah kita hanya terlihat menyesal, tetapi tetap mempertahankan kebiasaan yang salah. Datanglah kepada Tuhan dengan hati yang jujur, bersedia dikoreksi, dan mau berjalan dalam pembaruan. Pertobatan sejati bukan hanya mengoyakkan pakaian sebagai tanda kesedihan, melainkan membuka hati kepada firman Tuhan dan membiarkan-Nya mengubah kehidupan kita. Tuhan menyertai kita sekalian. Amin.
Selamat menjalani kehidupan.
Doa
Tuhan yang penuh kasih, kami bersyukur karena Engkau berbicara kepada kami melalui firman-Mu. Ampunilah kami ketika kami mendengar firman-Mu, tetapi mengeraskan hati dan tidak bersedia berubah. Berikanlah kepada kami hati yang lembut seperti hati Yosia, hati yang mau merendahkan diri dan menerima teguran-Mu. Bimbinglah kami untuk meninggalkan kebiasaan yang tidak berkenan kepada-Mu serta hidup dalam kebenaran. Pakailah kehidupan kami untuk membawa pembaruan, kasih, dan damai di tengah keluarga, gereja, dan masyarakat. Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.
Ditulis oleh Pdt. Timothy Saragi




Posting Komentar