wvsOdYmDaT9SQhoksZrPLG0gYqduIOCNl12L9d9t
Bookmark

Renungan Harian 6 Oktober 2026 - Seperti Diri Sendiri

Renungan Harian 6 Oktober 2026 mengajak kita merenungkan bagaimana seharusnya kita merespons luka dan persoalan dalam relasi dengan sesama. Imamat 19:18 mengingatkan kita untuk tidak menuntut balas dan tidak menyimpan dendam, tetapi memilih untuk mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Sebagaimana kita ingin dihargai, didengarkan, dikasihi, dan diampuni, demikianlah kita dipanggil untuk memperlakukan orang lain. Kasih tersebut bukan berarti membenarkan kesalahan, melainkan memilih untuk tidak membiarkan dendam menguasai hati, karena Tuhan sendiri berkata, "Akulah TUHAN."

Bacaan

"Janganlah engkau menuntut balas, dan janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu, melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri; Akulah TUHAN."

- Imamat 19:18

Pendahuluan

Dalam kehidupan bersama, kita tidak selalu dapat menghindari persoalan dengan orang lain. Di mana ada manusia, di situ ada relasi. Dalam relasi akan selalu ada kemungkinan muncul perbedaan, kesalahpahaman, perkataan yang menyinggung, tindakan yang mengecewakan, bahkan perlakuan yang melukai hati.

Ketika sesuatu yang tidak menyenangkan terjadi, tentu akan ada reaksi. Ada orang yang dapat menghadapinya dengan tenang dan memilih untuk menganggapnya sebagai sesuatu yang sudah berlalu. Tetapi ada juga orang yang terus mengingat apa yang telah terjadi.

Luka yang terus diingat dapat berubah menjadi kemarahan. Kemarahan dapat melahirkan keinginan untuk membalas. Kemudian terbentuk sebuah pola: disakiti, membalas, disakiti lagi, lalu membalas lagi.

Jika pola seperti ini terus berlangsung, perselisihan tidak akan pernah berhenti. Karena itu, firman Tuhan dalam Imamat 19:18 memberikan jalan yang berbeda: Jangan menuntut balas, jangan menaruh dendam, tetapi kasihilah sesama manusia seperti diri sendiri.

Pembahasan

Jangan Menuntut Balas

Firman Tuhan ini dimulai dengan sebuah larangan yang sangat jelas: "Janganlah engkau menuntut balas." Dalam relasi manusia dengan sesamanya, tentu ada hal-hal yang membuat kita tidak nyaman. Ada perkataan yang menyinggung, tindakan yang mengecewakan, atau perlakuan yang membuat hati terluka. Semakin berat tindakan seseorang kepada kita, semakin besar pula kemungkinan munculnya dorongan untuk membalas.

Kita mungkin pernah berpikir, "Kalau dia sudah melakukan itu kepada saya, suatu saat akan saya balas." Namun Tuhan tidak menghendaki kehidupan umat-Nya dikendalikan oleh siklus pembalasan. Ketika setiap luka dibalas dengan luka, persoalan tidak pernah benar-benar selesai. Hari ini seseorang menyakiti kita, kemudian kita membalasnya. Setelah itu orang tersebut kembali membalas, dan lingkaran seperti itu akan terus terjadi. Karena itu firman Tuhan mengingatkan: "Janganlah engkau menuntut balas."

Jangan Menaruh Dendam

Tuhan kemudian memberikan perintah yang lebih dalam: "Janganlah menaruh dendam." Kalau menuntut balas lebih mudah terlihat melalui tindakan, dendam dapat tinggal di dalam hati. Seseorang mungkin tidak membalas secara langsung, tetapi di dalam dirinya masih ada kemarahan, kekecewaan, sakit hati, bahkan keinginan agar orang yang menyakitinya mengalami penderitaan yang sama.

Ada orang yang berkata, "Saya tidak membalas kok." Tetapi sebenarnya ia masih menyimpan dendam selama bertahun-tahun. Karena itu Tuhan tidak hanya berbicara tentang apa yang kita lakukan, tetapi juga tentang apa yang kita simpan di dalam hati. Jangan menuntut balas. Jangan menyimpan dendam.

Jujur Mula ni Bada, Bolus Mula ni Dame

Dalam kehidupan masyarakat Batak Toba dikenal sebuah ungkapan: "Jujur mula ni bada, bolus mula ni dame." Ungkapan ini mengandung sebuah pelajaran yang dekat dengan firman Tuhan hari ini. Mengungkit-ungkit kembali persoalan yang telah terjadi dapat memicu terjadinya perselisihan, sedangkan menganggap sesuatu telah berlalu meniptakan kedamaian.

Ada persoalan yang sebenarnya sudah terjadi pada masa lalu, tetapi terus kita hidupkan kembali dengan mengingat dan mengungkitnya. Masalahnya mungkin sudah berlalu, tetapi kita membawanya ke hari ini. Besok kita mengingatnya lagi. Bahkan mungkin kita menceritakannya kembali kepada orang lain. Akhirnya, persoalan yang seharusnya sudah selesai, terus hidup di dalam hati kita.

Ada kalanya kita perlu berkata, "Ya sudahlah." Bukan berarti kita mengatakan (pasrah) bahwa apa yang terjadi itu benar. Bukan berarti kita menyangkal bahwa kita pernah terluka. Tetapi kita memilih untuk tidak terus membawa luka masa lalu ke dalam kehidupan hari ini. Kita tidak dapat mengubah apa yang sudah terjadi. Tetapi kita dapat memilih bagaimana kita menjalani hidup hari ini.

Memaafkan dan Melepaskan Dendam

Karena itu, firman Tuhan mengajak kita menjadi orang-orang yang belajar memaafkan. Memaafkan bukan berarti mengatakan bahwa kesalahan orang lain menjadi benar. Memaafkan juga bukan berarti kita harus kembali mempercayai seseorang yang terus melakukan kesalahan yang sama. Memaafkan berarti kita tidak membiarkan kesalahan orang lain terus menguasai hati kita.

Alkitab berulang kali mengajarkan kehidupan yang demikian. Kita diperintahkan untuk mengasihi, bahkan mengasihi musuh. Kita diajak untuk bermurah hati. Kita diajarkan untuk mengampuni seorang akan yang lain. Tuhan Yesus juga mengajarkan kita tentang mengampuni hingga berulang kali. Semua itu menunjukkan bahwa kehidupan orang percaya tidak boleh dikuasai oleh dendam. Kita pasti pernah terluka, tetapi jangan menjadikan luka menguasai kita.

Tidak Berhenti pada "Jangan"

Menarik, bahwa firman Tuhan ini tidak berhenti pada larangan. Tuhan tidak hanya berkata, "Jangan menuntut balas" dan "Jangan menaruh dendam." Tuhan melanjutkan: "Melainkan kasihilah sesamamu manusia..." Ada pergerakan yang sangat jelas. Tuhan tidak hanya meminta kita berhenti melakukan yang buruk, tetapi juga memanggil kita untuk melakukan yang baik.

Tidak membalas adalah satu hal. Tetapi mengasihi adalah langkah yang lebih jauh. Tidak membenci adalah satu hal. Tetapi memperlakukan orang lain dengan kasih adalah hal yang lain. Padahal mungkin orang yang harus kita kasihi adalah orang yang pernah menyakiti kita.

Dari "Orang Sebangsa" ke "Sesama Manusia"

Dalam bagian awal ayat ini Tuhan berkata, "janganlah menaruh dendam terhadap orang-orang sebangsamu." Perintah tersebut berada dalam konteks kehidupan umat Israel sebagai komunitas perjanjian. Namun kemudian Tuhan berkata, "kasihilah sesamamu manusia."

Ini memberikan ruang yang sangat luas bagi kita untuk memahami panggilan kasih. Kita tidak hanya dipanggil untuk memperlakukan dengan baik orang yang satu kelompok dengan kita, satu lingkungan, satu suku, atau satu komunitas. Kita dipanggil untuk melihat orang lain sebagai sesama manusia. Kasih tidak boleh terbatas hanya kepada orang yang kita sukai atau orang yang selalu berbuat baik kepada kita.

Seperti Diri Sendiri

Inilah inti dari tema renungan kita: "Seperti Diri Sendiri." Tuhan menggunakan sesuatu yang paling dekat dengan kita sebagai cermin untuk memperlakukan orang lain.

Kita tentu ingin dihargai. Kita ingin didengarkan. Kita tidak ingin dipermalukan. Kita ingin ketika mengalami kesulitan ada orang yang menolong. Kita ingin dikasihi. Kita juga ingin diampuni ketika melakukan kesalahan. Karena itu Tuhan berkata, "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Sebagaimana kita menginginkan hal-hal yang baik bagi diri kita, demikianlah hendaknya kita juga melakukan kebaikan bagi sesama.

Kalau kita tidak suka dipermalukan, jangan mempermalukan orang lain. Kalau kita tidak suka dibohongi, jangan membohongi orang lain. Kalau kita ingin dihargai, belajarlah menghargai orang lain. Kalau kita ingin didengarkan, belajarlah mendengarkan. Kalau kita ingin ketika mengalami kesulitan ada yang menolong, jangan menutup mata ketika orang lain membutuhkan pertolongan. Demikianlah kasih yang nyata.

Bukan Berarti Egois

"Seperti diri sendiri" bukan berarti kita harus menjadi egois atau selalu mengutamakan diri sendiri. Justru kita menggunakan pengalaman kita sebagai manusia untuk memahami kehidupan orang lain.

Kita tahu bagaimana rasanya disakiti. Maka kita belajar untuk tidak menyakiti. Kita tahu bagaimana rasanya diabaikan. Maka kita belajar untuk memperhatikan. Kita tahu bagaimana rasanya tidak didengarkan. Maka kita belajar mendengarkan. Kita tahu bagaimana rasanya ketika seseorang memberikan kesempatan kepada kita. Maka kita juga belajar memberikan kesempatan kepada orang lain.

Karena itu kita dapat membawa satu pertanyaan sederhana dalam hidup kita: "Kalau aku berada di posisinya, bagaimana aku ingin diperlakukan?" Pertanyaan sederhana ini dapat mengubah cara kita berbicara, bertindak, dan memperlakukan orang lain.

Tidak Berarti Membiarkan Kesalahan

Mengasihi bukan berarti membiarkan orang lain terus melakukan kesalahan kepada kita. Mengampuni bukan berarti tidak boleh memiliki batas. Mengasihi bukan berarti membenarkan kejahatan. Tidak menuntut balas juga bukan berarti kita tidak boleh mencari keadilan. Kita tetap dapat mengatakan bahwa sesuatu itu salah. Kita tetap dapat mengambil jarak dari tindakan yang merusak. Kita tetap dapat menyelesaikan persoalan dengan cara yang benar.

Yang Tuhan kehendaki adalah agar dendam tidak meguasa hati kita. Kita tidak hidup dengan tujuan, "Saya harus membuat dia menderita karena dia sudah membuat saya menderita." Sebaliknya, kita belajar menyerahkan persoalan kepada Tuhan dan memilih untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.

"Akulah TUHAN"

Ayat ini ditutup dengan kalimat yang sangat penting: "Akulah TUHAN." Kalimat ini menunjukkan dasar dari seluruh perintah tersebut. Kita tidak mengasihi hanya karena orang lain baik kepada kita. Kita tidak mengampuni hanya karena orang lain meminta maaf. Kita tidak menahan diri untuk membalas hanya karena kita tidak memiliki kesempatan. Kita melakukan semuanya karena Tuhan menghendaki demikian.

Kalau dasar kita hanya perasaan, kita akan mudah berkata, "Kalau dia baik kepada saya, saya akan baik kepadanya." Tetapi firman Tuhan berkata, "Akulah TUHAN." Artinya, standar kehidupan kita tidak semata-mata ditentukan oleh bagaimana orang lain memperlakukan kita. Kita hidup berdasarkan kehendak Tuhan.

Kesimpulan dan Refleksi

Bereflkesi pada Imamat 19:18, renungan ini membawa kita untuk melalui sebuah jalan yang jelas: Jangan menuntut balas, jangan menaruh dendam, kasihilah sesamamu manusia, dan kasihilah seperti dirimu sendiri. Dalam menjalani kehidupan, kita mungkin akan mengalami luka. Kita mungkin akan disakiti. Kita mungkin akan mengalami ketersinggungan dan perselisihan. Tetapi kita tidak harus membalas setiap luka dengan luka.

Jangan sampai hidup kita menjadi sebuah "lingkaran setan": Disakiti → membalas → disakiti lagi → membalas lagi. Begitu terus berulang terjadi, jika demikian tidak menutup kemungkinan pola ini terjadi tidak hanya kepada satu orang, bisa saja kepada dua orang atau lebih. Jika konsep kita demikian, maka akan habislah waktu kita hanya untuk memikirkan hal itu dan justru tidak membawa kebaikan bagi hidup kita. Maka belajarlah untuk menghentikan lingkaran itu.

Seperti ungkapan pepatah Batak, "Jujur mula ni bada, bolus mula ni dame." Jangan terus mengungkit apa yang sudah lewat sehingga perselisihan terus terjadi. Ada saatnya kita berkata, "Sudahlah," bukan karena kita menganggap kesalahan itu benar, tetapi karena kita tidak ingin hidup kita terus dikuasai oleh persoalan masa lalu.

Ketika Tuhan berkata, "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri," Tuhan mengajak kita melihat orang lain melalui diri kita sendiri. Kita ingin dihargai, maka hargailah. Kita ingin didengarkan, maka dengarkanlah. Kita ingin dikasihi, maka kasihilah. Kita ingin diberi kesempatan, maka berilah kesempatan. Kita ingin diampuni ketika melakukan kesalahan, maka belajarlah mengampuni.

Semuanya itu kita lakukan bukan semata-mata karena orang lain selalu baik kepada kita, tetapi karena Tuhan berkata: "Akulah TUHAN." Jangan membalas luka dengan luka. Jangan memelihara dendam di dalam hati. Belajarlah mengasihi sesama seperti diri sendiri, karena kita semua hidup di hadapan Tuhan.

Tuhan menyertai kita sekalian. Amin.

Selamat menjalani kehidupan.

Doa

Tuhan yang penuh kasih, kami bersyukur untuk firman-Mu yang mengingatkan kami agar tidak menuntut balas dan tidak menaruh dendam.

Kami mengakui bahwa sering kali kami sulit melupakan ketika orang lain menyakiti kami. Ajarlah kami untuk melepaskan dendam. Berikanlah kepada kami hati yang mampu mengampuni dan keberanian untuk tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Biarlah kehidupan kami menjadi kehidupan yang membawa damai, membawa kasih, bukan dendam; membawa pengampunan, bukan pembalasan.

Di dalam nama Tuhan Yesus Kristus kami berdoa. Amin.

Ditulis oleh Pdt. Timothy Saragi


Catatan: Semua iklan yang terdapat pada website dan tulisan ini tidak ada hubungannya dengan timothysaragi.com.

Dapatkan update artikel terbaru dari timothysaragi.com. Mari bergabung di Channel WhatsApp "timothysaragi.com Artikel Update", caranya klik link https://whatsapp.com/channel/0029VapB7ASBVJlBihjSSW2q, kemudian join. Atau di Channel Telegram, caranya klik link https://t.me/timothysaragicomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

0

Posting Komentar